Kita baru saja mendapat kunjungan orang nomor satu Amerika Serikat, Presiden Barack Hussein Obama yang banyak memberikan inspirasi bagi kita dan dunia agar menerapkan prinsip-prinsip pluralisme, demokrasi, dan kebersamaan, dan kesamaan derajat diantara bangsa-bangsa didunia, bukan dominasi kekuasaan. Beliau banyak mengutip ideologi yang dianut bangsa Indonesia, seperti Pancasila, Bhinneka Tunngal Ika, dan keberhasilan bangsa Indonesia dalam menyelesaikan berbagai konflik di dalam negeri. Indonesia sebagai sebuah contoh demokrasi yang behasil membuat masyarakat yang berbeda keyakinan agama dapat hidup berdampingan secara damai. Beliau lebih mengedepankan penyelesaian konflik secara damai, atau Soft Power, melalui perundingan dari pada melalui peretempuran fisik. Ini merupakan kampanye Obama saat berpidato dalam kampanye Pemilihan Presiden AS tahun 2008.

Cita-cita Obama untuk merubah kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat pada kenyataannya memang tidak selalu berjalan mulus, seperti penyelesaian konflik Israel-Palestina, Perang Iraq, dan Perang Afghanistan, sebab perang yang dikobarkan oleh pendahulunya, Presiden George W. Bush, penuh dengan asumsi-asumsi yang tidak benar, seperti adanya senjata pemusnah massal di Iraq, dll. Untuk perang Iraq, memang Obama telah membuat keputusan yang tepat, yaitu menarik seluruh pasukann AS pada bulan Juni 2011. Sedangkan untuk perang Afghanistan, keputusannya masih keliru dengan terus melanjutkan serangan-serangan pesawat tempur tak-berawak yang menimbulkan banyak korban-korban berjatuhan dari rakyatr yang tak berdosa. Obama harus membuat keputusan yang berani dan tepat, sebab sudah diperkirakan bahwa Perang Afghanistan akan berjalan lama dan tak mungkin dimenangkan oleh tentara pendudukan AS dan NATO. Jangan sampai AS menelan kekalahan pahit dan memalukan seperti Perang Vietnam.

Obama harus segera menghentikan perang Afghanistan, menghentikan pertempuran fisik yang telah menewaskan puluhan ribu korban rakyat Afghanistan yang tak berdosa, dan menggantikannya dengan Soft Power, melalui perundingan perdamaian antara fihak-fihak yang bertikai. Ini akan dapat menghemat anggaran perang AS sampai ratusan milyar Dollar yang saat ini memang sangat dibutuhkan oleh Pemerintah AS untuk memulihkan perekonomiannya yang sedang terpuruk.

Terkait dengan judul berita diatas, itu adalah sebuah kekeliruan atau kebodohan sebuah operasi intelijen CIA yang mereka lakukan di Italia disiang hari bolong tahun 2003, dimana operasi-operasi CIA itu dengan mudah dapat dilacak, untuk menangkap seorang tersangka teroris, Osama Mustafa Hassan Nasr, atau Abu Omar. Abu Omar akhirnya dikirim ke Mesir, disiksa sampai berbulan-bulan di penjara Mesir, dan akhirnya dibebaskan karena tuduhan-tuduhan terhadapnya tidak terbukti.

Saat ini di Pengadilan Italia sedang diproses pengadilan terhadap 23 orang warga negara AS sebagai anggota CIA yang melakukan penangkapan Abu Omar secara illegal, dan menjadi berita hangat di The New York Times saat ini. Apakah operasi itu merupakan perintah langsung orang nomor satu di AS saat itu, Presiden Bush? Apakah ada peran Perdana Menteri Italia saat itu, Silvio Berlusconi? Jawabannya akan sangat menarik untuk diketahui oleh kita semua, bahwa pelanggaran HAM tidak dapat lagi ditolerir oleh masyarakat dunia.

Silahkan ditanggapi.
Semoga bermanfaat.

Inside the Central Intelligence Agency, it came to be known as “The Italian Job,” a botched operation in 2003 that snatched a radical cleric off a Milan street in broad daylight and spirited him to Egypt, where he says he endured months of torture at the hands of his Egyptian jailers.

The C.I.A. operatives had successfully nabbed their quarry — Osama Mustafa Hassan Nasr, known as Abu Omar — but they made a number of dizzyingly stupid decisions while in Italy. They spoke on commercial cellphones, used traceable toll scanners to breeze down highways in the getaway van, checked into ritzy hotels using the addresses of post office boxes located near C.I.A. headquarters and even gave the hotels frequent flier numbers so they could earn miles during their stay in Milan. The missteps left a lengthy evidence trail for Italian prosecutors, and 23 Americans were ultimately convicted on kidnapping charges after being tried in absentia.

Italian and American journalists have already unearthed many details of the case, and others came out during the trial. Yet a more thorough treatment has been needed to resolve a number of mysteries.

Steve Hendricks, the author of “The Unquiet Grave: The FBI and the Struggle for the Soul of Indian Country,” has gone part of the way in “A Kidnapping in Milan,” a generally fast-paced account of the episode. Hendricks is particularly strong in tracing Abu Omar’s roots in the jihadist world of the Middle East and his travels to Pakistan, Albania and eventually the rundown fringes of Milan. When Abu Omar arrived in Italy, he was just one among a flood of immigrants who had come to work in factories churning out Armani suits and Prada shoes.

But as Milan emerged as a hive of radical Islamic activity, Abu Omar became an influential cleric at one of the city’s mosques. His fiery sermons attracted the attention of both Italian and American officials, who began eavesdropping on his conversations to determine whether he was plotting terror attacks. Hendricks chronicles the rivalries, mistrust and poor communication between the Italian counterterrorism agencies, a situation not unlike the historic animosity between the C.I.A. and the F.B.I. Though the C.I.A. operatives snatched Abu Omar with the blessing of part of Italy’s intelligence establishment, a separate Italian counterterrorism agency that had been gathering evidence to prosecute the Egyptian in court was left completely in the dark.

Hendricks recounts Abu Omar’s time in an Egyptian prison in particularly grim detail, in a section that also contains a somewhat superfluous and stomach-churning description of torture methods employed throughout history. And he is admirably candid about the fact that he paid Abu Omar to get his story after the cleric was released from prison. Abu Omar even locked Hendricks in his apartment when the two men fought over exactly how much Abu Omar should be paid.

But who thought the Abu Omar abduction was actually a good idea? And why was the operation so amateurish? Did the head of the C.I.A.’s Milan base, Robert Seldon Lady, really oppose it, as Lady has asserted in some news media accounts? “A Kidnapping in Milan” provides no answers.

Hendricks tried unsuccessfully to get members of the C.I.A. team to speak to him — efforts that resulted in hastily hung-up phones and face-to-face meetings where people he suspects were on the mission flatly denied any involvement, or even working for the C.I.A. Reporters who regularly toil in these fields will sympathize with Hendricks’s frustration.

And yet Hendricks does not seem to have tried other, more senior American officials to better fill in the picture. Who gave approval for the operation? Did President Bush personally make the decision? And what exactly did the Italian prime minister, Silvio Berlusconi, know about it all? These are some of the questions that bedeviled a group of dogged Italian prosecutors and, as yet, have not been answered.

Mark Mazzetti is a national security correspondent for The Times. (Source: Mark Marzetti – The New York Times, Nov 12, 2010)

Menarik sekali tulisan Christanto Wibisono di Harian Kompas 8 Nov 2010 tentang sejarah perkembangan Kapitalisme, mulai dari Kapitalisme 1.0 sampai saat ini Kapitalisme 4.0.

Kapitalisme 1.0 didasarkan atas teori Adam Smith tentang pasar bebas murni (laisez faire) yang berlangsung dari tahun 1800-an sampai berakhir dengan kegagalannya, yaitu ambruknya pasar saham Wall Street pada Oktober 1929, dan menimbulkan resesi dunia yang berkepanjangan.

Ideologi Kapitalisme ditentang keras oleh Partai Komunis Uni Sovyet dan RRC yang muncul pada tahun 1917 dengan ideologi Komunisme.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, maka dimunculkan Kapitalisme 2.0 sebagai hasil dari kombinasi teori Keynesian (John Maynard Keynes) dan New Deal (Presiden AS Franklin D. Roosevelt). Kapitalisme 2.0 ini bersaing ketat dengan ideologi Komunisme hingga tahun 1970-an, setelah RRC dan Uni Sovyet mau mengadopsi ideologi Kapitalisme 2.0 pada tahun 1979, dan meninggalkan secara bertahap ideologi Komunisme mereka.

Kapitalisme 2.0 dilanjutkan dengan Kapitalisme 3.0 setelah Presiden AS Ronald Reagan dan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher menerapkan swastanisasi dan liberalisasi sektor finansial. Hasilnya setelah 29-tahun berjalan adalah jatuhnya kembali pasar saham Wallstreet beserta Lehman Brothers pada tahun 2008, setelah 10-tahun sebelumnya meruntuhkan perekonomian Asia Timur termasuk Indonesia. Ini adalah dampak dari Fundamentalisme pasar dengan ekonomi gelembung (Bubble Economy).

Manusia kembali harus belajar dari pengalaman masa lalu, dimana liberalisasi pasar tidak boleh terlalu liberal, dan regulasi tidak boleh terlalu ketat. Ini adalah hasil dari kekalahan Presiden Barack Obama pada tanggal 3 November 2010 yang lalu. Kebijakan Obama yang terlalu pro Ekonomi Kerakyatan harus dirubah untuk juga memberikan ruang bagi liberalisasi pasar yang tidak terlalu liberal. Jadi antara kedua kubu itu harus di-regulasi secara berimbang. Ini akan menjadi ideologi Kapitalisme 4.0 atau Ekonomi Jalan Tengah yang pernah dimunculkan saat Pemilu Presiden R.I. 2009 yang lalu.

Pengalaman Perekonomian Global yang sekarang harus mengadopsi Kapitalisme 4.0 atau Perekonian Jalan Tengah ini juga harus diterapkan dalam regulasi Telematika Indonesia, dimana regulasinya tidak boleh terlalu ketat, tetapi hendaknya agar berimbang, antara peran swasta dan masyarakat dengan peran Pemerintah.

Silahkan ditanggapi.

Gunung Merapi

Melihat makin banyaknya korban-korban yang berjatuhan dari bencana meletusnya gunung Merapi, yang terutama disebabkan oleh sulitnya meramalkan kapan gunung itu akan meletus, sehingga membuat banyak korban-korban berjatuhan karena tidak tahu hari apa, jam berapa dan detik keberapa gunung itu akan meletus, maka kami ingin menyampaikan sebuah pemikiran atau solusi.

Para korban itu tewas karena ketidak-tahuan mereka saat meletusnya gunung Merapi itu, mereka tetap berada di lokasi yang berbahaya itu dan perkiraan mereka itu meleset. Seperti sudah diakui oleh Bapak Surono, Ketua Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, secara ilmiah tidak mungkin untuk meramalkan secara tepat kapan sebuah gunung berapi akan meletus. Jadi ini merupakan faktor utama yang menyebabkan banyaknya korban-korban yang berjatuhan.

Gunung Berapi yang akan meletus adalah ibarat bisul yang siap akan pecah. Untuk mempercepatnya, kita bisa memencet bisul itu hingga keluarlah nanah kotor yang menyebabkan kita sakit. Penderita sakit bisul itu akan segera sembuh setelah dikeluarkannya nanah dari bisulnya.

Lalu bagaimanakah caranya untuk “memencet” gunung berapi yang siap meletus itu agar saatnya dapat kita tetapkan sesuai rencana, dan sebelumnya seluruh penduduk disekitarnya sudah terlebih dahulu kita ungsikan untuk satu hari saja, pada hari dimana gunung itu kita upayakan meletus.

Ini akan sangat mengurangi penderitaan penduduk disekitar gunung berapi itu, karena hanya diperlukan untuk mengungsi cukup satu hari saja. Selain itu mereka tidak harus was-was terus selama satu bulan penuh karena tidak tahu kapan waktunya gunung akan meletus.

Usul kami untuk meledakkan gunung yang siap meletus pada saat yang kita tentukan adalah dengan menjatuhkan ratusan ton bom dari pesawat tempur secara cepat dan akurat ke kawah gunung berapi itu. Hasil yang diharapkan adalah terbukanya sumbatan batu-batuan dan pasir gunung itu, sehingga tidak terjadi ledakan yang terlalu hebat akibat sumbatan yang terlalu lama yang dapat meningkatkan energi ledakan gunung itu, Bagaikan bisul yang dikempeskan, tekanan dari dalam perut bumi dapat diturunkan ketingkat yang tidak terlalu membahayakan.

Wedus Gembel

Wedus Gembel

Kalau Angkatan Udara R.I. belum mempunyai cukup banyak pesawat-pesawat tempur dengan jumlah bom-bom yang cukup, mungkin ini adalah sebuah kesempatan baik untuk dibicarakan dengan Presiden AS Barack Obama yang akan datang ke Jakarta pada hari Selasa 9 November 2010. Ini akan lebih baik dan bermanfaat bagi ummat manusia dari pada menjatuhkan bom-bom di tempat-tempat yang berpenduduk tak berdosa di Iraq dan Afghanistan.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat sebagai solusi yang baik untuk menghindarkan korban-korban letusan gunung berapi yang tidak dapat diramalkan.

Presiden AS Barack Obama malam tadi mengakui kekeliruan kebijakan nasionalnya sehingga mengakibatkan kekalahan Kubu Demokrat di DPR pada Pemilu Mid-Term November 2010 ini, walaupn di tingkat Senat Kubu Demokrat masih tetap memegang kendali mayoritas.

Kekeliruan-kekeliruan kebijakan Obama tersebut antara lain adalah upayanya untuk meningkatkan taraf hidup kelompok miskin Rakyat Amerika dengan memberikan  layanan kesehatan yang lebih baik dan memberikan jaminan asuransi bagi rakyat miskin. Ini tentu sangat ditentang oleh para pengusaha AS yang sangat menjunjung tinggi kebijakan ekonomi NeoLib, persaingan bebas.

Kebijakan lainnya yang menguntungkan Rakyat Miskin AS adalah Pemotongan Pajak bagi individu khususnya golongan Rakyat Miskin atau yang berpenghasilan pas-pasan.

Kalu boleh disimpulkan, kekalahan Kubu Demokrat di AS adalah ibarat Kekalahan Kebijakan Ekonomi Kerakyatan terhadap kebijakan Ekonomi NeoLIb.

Selama dua tahun Pemerintahannya, pidato-pidato Obama sering dianggap sebagai seorang Dosen yang memberikan kuliah, memaksakan pemikirannya kepada para mahasiswanya, bukannya mencarikan solusi yang dapat diterima bersama oleh mayoritas Rakyat Amerika, khusunya para pengusaha yang punya pengaruh besar dalam kehidupan perekonomian Amerika.

Suatu waktu Obama memberikan pidato di George Washington University yang menyatakan bahwa sebagai Presiden ia akan mengembangkan kebijakan investasi jangka panjang, namun akhirnya ternyata pernyataannya tidak dilaksanakan.

Apa yang dibutuhkan oleh Rakyat Amerika bukanlah janji-janji yang kosong, yang tidak dapat dilaksanakan. Rakyat umumnya tidak sabar membaca berbagai makalah atau paper works. Yang mereka harapkan adalah Action, bukan NATO (No Action, Talk Only).

Mulai sekarang Obama harus lebih mendahulukan hubungan emosional dengan masyarakat banyak, bukan memaksakan kehendaknya.

Sebagai seorang Presiden AS, ia harus bisa menunjukkan efektivitasnya sebagai Pemimpin yang bisa merubah sitausi perekonomian AS yang sedang terpuruk, menjadi lebih baik dalam waktu singkat, mengurangi jumlah pengangguran yang saat ini masih pada angka antara 9 juta – 10 juta orang.

Mulai sekarang Obama harus dapat bekerjasama dengan pihak oposisi, yaitu Partai Republik dan pendukungnya Partai Tea (Tea Party) yang sangat konservatif dan cenderung menentang kebijakan Pemerintah.

Pengalaman kekalahan Partai Demokrat AS yang dipimpin Obama dapat menjadi petunjuk yang sangat bermanfaat bagi Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid-II yang dipimpin oleh Presiden SBY untuk meningkatkan efektivitas dan kinerjanya dalam periode 2010-2014.

Marilah kita sambut kedatangan Presiden Obama dengan tangan terbuka, karena beliau adalah bagian dari sejarah Indonesia, dimana beliau pernah bersekolah di Sekolah Dasar Besuki, Menteng, Jakarta selama 4-tahun. Semoga kehadiran beliau di Indonesia dapat meningkatkan hubungan baik antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Dengan makin banyaknya korban-korban tentara NATO  yang tewas tiap hari di Afghanistan, serta makin mendekatnya jadwal penarikan tentara AS dari Afghanistan, yaitu Juli 2011 sebagaimana dijanjikan oleh Presiden AS Barack Obama, maka makin besar pula tekanan kepada Pemerintah AS dan Afghanistan untuk menghentikan Perang di Afghanistan yang sudah berjalan 9-tahun melalui perundingan dengan pimpinan Taliban.

Untuk mengurangi korban tewas dari pihak tentara NATO dan untuk membunuh para Pimpinan menegah Taliban, AS menggunakan banyak sekali serangan pesawat-pesawat terbang tanpa awak “Predator drones”. Antara bulan Juni- September 2010 saja, pewawat2 Predator drones itu telah menjatuhkan sebanyak 2.100 bom atau missile ke arah konsentrasi-konsentrasi tentara Taliban. Serangan-serangan itu tentu saja tidak hanya membunuh tentara Taliban, tetapi juga penduduk sipil, anak-anak dan wanita yang tidak berdosa.

Jendral Petraeus, Pemimpin tentara NATO di Afghanistan yang menggantikan Jendral McCrystal, sebelumnya memang menggunakan takitik yang serupa di medan perang Iraq, sehingga dapat dibentuk Pemeritahan di Iraq yang didukung oleh semua pihak, walaupun sampai saat ini belum juga terbentuk Pemerintahan Iraq yang benar-benar kuat.

Jendral McCrystal sebelumnya pernah meng-kritik kebijakan AS ini, bahwa taktik penghancuran konsentrasi-konsentrasi tentara Taliban tidak akan pernah berhasil untuk membawa mereka ke meja perundingan. Kritik ini telah membuat marah Pemerintahan Presiden Obama, sehingga akhirnya McCrystal dicopot dari jabatannya. Sebaliknya taktik ini malah akan membuat marah dan kebencian kepada tentara NATO, dan membalas mereka dengan serangan-serangan bom bunuh diri.

Kesalahan utama sebenarnya ada di pihak-pihak yang mengobarkan Perang Iraq dan Perang Afghanistan, dua negara berdaulat yang diserang dengan alasan-alasan yang tidak jelas serta dibuat-buat, seperti telah terbukti. Sekarang para penyerang itu terkena getahnya, mereka akan sulit meninggalkan medan perang dengan kemenangan total seperti yang mereka harapkan.

Apakah sejarah Perang Vietnam akan terulang kembali, dengan penarikan tentara AS secara tergesa-gesa dan dipermalukan oleh tentara Ho Chi Minh sehingga terpaksa AS mengakui kedaulatan Vietnam seperti sekarang? Kejadian tersebut diatas juga merupakan kegagalam PBB yang membiarkan negara-negara Adikuasa untuk menyerang negara-negara kecil, dan bukannya membiarkan mereka menyelesaikan perselisihan domestik mereka.

Si;ahkan ditanggapi.

———————— Berita lengkapnya ————————–

KABUL, Afghanistan, Oct 15, 2010 — Airstrikes on Taliban insurgents have risen sharply here over the past four months, the latest piece in what appears to be a coordinated effort by American commanders to bleed the insurgency and pressure its leaders to negotiate an end to the war.

American pilots pounded the Taliban with 2,100 bombs or missiles from June through September, with 700 in September alone, Air Force officers here said Thursday. That is an increase of nearly 50 percent over the same period last year, the records show.

The stepped-up air campaign is part of what appears to be an intensifying American effort, orchestrated by Gen. David H. Petraeus, to break the military stalemate here as pressure intensifies at home to bring the nine-year-old war to an end. In recent weeks, General Petraeus has increased raids by Special Forces units and launched large operations to clear territory of Taliban militants.

And it seems increasingly clear that he is partly using the attacks to expand a parallel path to the end of the war: an American-led diplomatic initiative, very much in its infancy but ultimately aimed at persuading the Taliban — or large parts of the movement — to make peace with the Afghan government.

In recent weeks, American officials have spoken approvingly in public of new contacts between Taliban leaders and the Afghan government. On Wednesday they acknowledged their active involvement by helping Taliban leaders travel to Kabul to talk peace.

On the diplomatic front, Afghan leaders said Thursday that they were seeing what they believed were the first positive signs from the Taliban. In a news conference in Kabul, Burhanuddin Rabbani, the leader of a council charged with making peace, said that discussions with Taliban leaders — carried out through third parties — were under way.

“The Taliban have not rejected peace completely,” said Mr. Rabbani, a former Afghan president. They want the talks “to take place,” he added.

For all the efforts, American and Afghan officials were quick to play down any suggestion that peace was at hand — or even remotely near. Most of the Taliban leaders, if not the movement’s foot soldiers, have given no sign that they are willing to make any sort of deal.

Even on the battlefield, there are few indications that the large increase in firepower ordered by President Obama is having the intended effect. With the American-led war moving through its bloodiest phase since 2001, more American and NATO soldiers have been killed this year than at any time since the war began. In the past two days alone, at least 14 members of the Western forces here have been killed.

Indeed, senior American officials, gathering Thursday at a NATO conference in Brussels, indicated that they were trying to energize a peace process about whose contours and duration they could only guess.

“We just — you know, we need to be open to opportunities that arise,” Secretary of Defense Robert M. Gates said in Brussels.

President Hamid Karzai of Afghanistan and his advisers have been trying for months to engage the Taliban’s leaders about the possibilities of ending the war. In part, Mr. Karzai and his team are motivated by concerns about Mr. Obama’s plan to begin reducing the number of American forces here by next July.

So far, those diplomatic efforts have come to naught. Pakistani officials helped scuttle one incipient dialogue that was unfolding earlier this year.

For their part, the Taliban’s leaders have mostly dismissed the possibility of making a deal with Mr. Karzai’s government, declaring — not without reason — that time is on their side.

American officers said the intensified airstrikes were possible because of better intelligence, which enables pilots to be more precise in their attacks. Much of that intelligence, the officers said, is being supplied by remotely piloted aircraft like the Predator drones, which have flooded the skies in recent months.

According to the Air Force’s statistics, remotely piloted vehicles have flown more than 21,000 sorties so far this year, already surpassing the roughly 19,000 drone flights for all of last year. The targets for many of the airstrikes have been insurgents who were building or planting homemade bombs, which are the most prolific killers of American and NATO troops.

“We have been able to find a lot of places where they are putting these things together,” said Col. Jim Sturgeon, chief of air operations for NATO.

So far, the greater number of airstrikes does not appear to have resulted in more civilian casualties, at least not according to NATO statistics. In 2008, between January and September, 169 Afghans were inadvertently killed or wounded in NATO airstrikes. Over the same period in 2010, the number of Afghans killed or wounded was 88, the statistics show.

Insurgents cause the overwhelming majority of civilian deaths here, but errant strikes by NATO jets and helicopters have been a source of great tension with the Karzai government.

The statistics on American airstrikes were first published in Wired magazine.

The more intensive air campaign comes as American and NATO forces have stepped up the fight in other areas as well. The operation to pacify Kandahar, the epicenter of the insurgency, is well under way.

Members of Special Operations units have been unleashed with particular ferocity. In a three-month period ending Oct. 7, the units killed 300 midlevel Taliban commanders and 800 foot soldiers, and captured 2,000 insurgents.

“You’ve got to put pressure on the networks to get them to start thinking about alternatives to fighting,” said a senior NATO officer in Kabul. “We are not at the tipping point yet.”

General Petraeus appears to be following a template that helped him pull the Iraq war back from the cataclysmic levels of violence that engulfed the country after the American invasion. Beginning in 2006, American commanders simultaneously opened negotiations with insurgent leaders while killing or capturing those not inclined to make a deal.

Afghanistan is a different country, and it is not clear that the tactics that brought success in Iraq will work here. In particular, the Afghan insurgency is nowhere near to being as cohesive as the insurgency in Iraq, where guerrilla leaders could order their men to stop fighting with a reasonable expectation that they would obey.

Some Afghan experts believe that NATO’s two-track strategy is flawed — that bleeding the Taliban may actually make the insurgents less inclined to negotiate. Matt Waldman, an independent analyst who has worked extensively in the region, said that it was unlikely that many Taliban leaders could order their men to stop fighting.

“It’s dangerous to assume that you can bring off a senior commander and all his men will follow,” Mr. Waldman said.

It was more likely, he said, that the midlevel commanders now being killed by NATO would be replaced by others ever more committed to fighting. After all, one of the principles of the Afghan campaign, enunciated by General Petraeus himself and Gen. Stanley A. McChrystal before him, was that NATO would never be able to kill and capture its way to victory.

“The idea that killing insurgents will take us to negotiations seems pretty doubtful,” Mr. Waldman said. “They have an infinite capacity to regenerate.”

(Carlotta Gall contributed reporting from Kabul, Thom Shanker from Brussels and Eric Schmitt from Washington)

Kita semua mengenal siapa Kartini, seorang tokoh perempuan yang memperjuangkan “Emansipasi”. Pada mulanya, hampir semua mengartikan “emansipasi” sebagai kesetaraan antara  perempuan dan laki laki, dimana perempuan selalu di terbelakang kan. Sedangkan arti “Emancipation” adalah Kemerdekaan, kesetaraan. Setelah di telaah dengan cermat isi surat surat yang pernah ditulis oleh beliau selama empat setengah tahun, “Emansipasi” yang diperjuangkan adalah bukan hanya sekedar emansipasi wanita, tetapi lebih luas dari itu, yaitu  kesetaraan antar bangsa. Kartini kecil melihat kesenjangan antara bangsa Belanda dan bangsa nya Kartini yang saat itu disebutnya sebagai bangsa Jawa . Kartini kecil, sudah berani melawan arus penjajahan dengan cara nya yang unik, yaitu dengan pemikiran, analisa dan keberanian untuk mengungkapkan. Kartini belajar bahasa Belanda dari sekolahnya di sekolah dasar, dan kemudian ia dipingit, hanya bisa belajar di rumah dengan ditemani oleh kakak dan ayahnya . Sang Ayah yang sangat mencintai Kartini dan merasakan gejolak yang ada didalam hati buah hati nya membimbing Kartini dalam membaca,berdiskusi tentang  apa saja yang bisa dibaca dikoran maupun majalah yang dimilikinya. Ayah Kartini, berlangganan hampir semua majalah politik, majalah sosial budaya, koran2 terkemuka dan buku buku sastra berbahasa Belanda .

Kartini ingin menguasai bahasa Belanda seperti bahasa nya sendiri, bukan untuk menjadi Belanda, tetapi agar mampu mengungkapkan apa yang bergejolak dalam hatinya dengan tepat, agar bangsa Belanda benar2 mengerti apa yang tidak seharusnya di lakukan di Hindia Belanda ini. Maka Kartini berjuang dengan cara berpikir dan adat mereka, menggunakan bahasa mereka,meskipun saat itu tidak  mungkin ada kesetaraan antara Belanda yang menjajah dan Hindia Belanda yang dijajahnya

Kartini dilahirkan pada 21 April 1879 dari ibu nya yang bernama Ngasirah dan bapaknya seorang  Bupati Rembang.  Kartini kecil tumbuh menjadi anak perempuan bangsawan yang sangat cerdas, peka terhadap keadaan bangsanya, dan punya keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang bertentangan dengan sekelilingnya. Sang ayah yang sangat di puja, memberikan perhatian besar kepada  Kartini kecil yang dicintainya. Bukan saja kasih sayang yang dicurahkan oleh sang ayah, tetapi pendidikan kemandirian , pengetahuan umum, politik dan budaya Jawa, serta adat istiadat Jawa yang Kental, dan di ajari bagaimana mencintai rakyatnya. Kartini dan adik2nya,Rukmini dan Kardinah sering di ajak ayahnya berkeliling desa, mengunjungi  dan memberikan bantuan kepada rakyat jelata yang tertimpa bencana . Dari bencana kekeringan, bencana banjir sampai ke bencana penyakit yang menimpa rakyat jelata.  Sejak usia muda, Kartini mempunyai sifat ingin tahu tentang kemajuan bangsa lain (dibaca dari koran2) dan kemudian membandingkan dengan apa yang terjadi di negerinya. Dia sangat egaliter, dia tidak suka di sebut sebagai puteri,  “raden ajeng”, dia  tidak menghendaki  kekakuan adat istiadat dari adik kepada dia  meskipun dia tetap sangat menghormati kakaknya sesuai adat istiadat yang kaku. Dia menganggap bahwa adat istiadat menghormati yang lebih tua adalah hak bagi yang lebih tua, sedangkan untuk adik adik nya dia tidak mau menggunakan hak tersebut. Ini adalah suatu sikap kesetaraan dan menghargai hak orang lain. Kartini kecil yang halus budi pekertinya,cinta kepada bangsanya,selalu menunjukkan kemarahan dan kesedihan melihat belenggu adat  mengurung kebebasan kaum perempuan. Dan dalam suratnya dia menuliskan bahwa dia ingin memerdekakan bangsanya sekaligus mengangkat martabat kaum perempuan Jawa.

Ketika menginjak dewasa Kartini menuangkan  pemikiran2nya  dalam surat yang dia tulis ke teman di negeri Belanda, dengan bahasa Belanda yang sangat bagus. Dari tulisan2 di surat nya tersirat jelas  bahwa Kartini memperjuangkan  “tata nilai” bagi peradaban manusia, yaitu Kebebasan (freedom) atau kemerdekaan adalah hak bagi setiap manusia. Kesadaran ini ditulis bersama adik2nya di koran2 dengan cara yang tersamar sehingga mampu menggerakkan para pemuda yang belajar di Stovia untuk melakukan per gerakan. Mereka secara informal membentuk Jong Java sebagai sebuah perkumpulan. Gayung pun bersambut. Kesadaran kaum muda ini kemudian  matang dengan munculnya Perkumpulan Budi Utomo pada tahun 1908. Saat itu belum dikenal nama Indonesia, bahkan Hindia Belanda pun baru terdiri dari Jawa dan Madura. Namun, inilah cikal bakal terbentuknya Negara Indonesia yang merdeka yang diproklamirkan BungKarno di tahun 1945.  Maka ia pantas untuk diakui sebagai seorang pahlawan kebangkitan nasional.

Dari uraian tadi jelas, mengapa Kartini yang menjadi “Icon” sejarah perjuangan perempuan nasional di Indonesia, meskipun ada pejuang2 perempuan yang lain , misalnya  Dewi Sartika mendirikan sekolah perempuan, ada pula perempuan perkasa memimpin pasukan untuk berperang melawan Belanda mempertahankan  wilayahnya , seperti Cut Nya Din.

Kegelisahan Kartini dalam kungkungan tembok penindasan kolonialisme, imperialisme dan feodalime membakar semangat dan membuka mata hatinya. Ia menemukan “tata nilai” yang harus dimiliki pejuang kemerdekaan adalah: Ketuhanan, Kebijakan, Keindahan, Kemanusiaan dan Nasionalisme. Kartini merasakan ketidak adilan, menyaksikan penindasan dan menelan penghancuran peradaban. Perjuangannya terus membara, disuarakan  ke dunia melalui pena emasnya menembus tembok yang mengurungnya, melesat tajam merubah paradigma yang ada. Paradigma yang terbentuk karena adanya si penjajah dan yang di jajah dengan segala komplikasinya. Semangat juang itu tidak pernah padam sampai akhir hayatnya . Dalam salah satu tulisannya dia menjawab ketika ibunya mempertanyakan tentang cita cita  Kartini, apakah tidak terlalu tinggi untuk dicapai ? ,

Kartini menjawab :

Saya tahu jalan yang hendak saya tempuh itu sukar, penuh duri, onak, lubang , jalan itu berbatu batu berjendal jendul  licin belum dirintis. Dan walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu , walaupun saya akan patah ditengah jalan , saya akan mati dengan bahagia. Sebab jalan tersebut sudah terbuka, dan saya turut membantu meretas jalan yang menuju ke kebebasan dan kemerdekaan bangsa dan mengangkat martabat perempuan bumi putera.

(7 Oktober 1900)

Keinginan terhadap kebebasan dan kemandirian yang dia rasakan semenjak dia masih kanak2 ketika dia belum menghayati benar apa artinya emansipasi wanita, ternyata menjadi gelombang yang tidak tersurutkan . Dia pemberani yang consistent dan teguh memperjuangkan kepentingan bangsa, bukan kepentingan dirinya sendiri.Hal ini di tulis di dalam surat yang dikirimkan kepada  nyonya Ovink. Dia bercerita tentang dialog dg ibundanya yang tidak percaya kalau Kartini benar2 ingin memperjuangkan kebebasan bagi bangsa dan perempuan Hindia Belanda:

Benarkah kau akan menggoncangkan dan menghancurkan  gedung raksasa itu nak ?“ Ibunya bertanya kepada Kartini dan adik2nya,  Kartini menjawab sbb :

“Ya ibu, kami akan mengguncangnya  dengan segala kekuatan walaupun  yang akan runtuh hanya  satu butir batu saja  maka kami akan merasa hidup kami tidak akan sia sia” (awal 1900,nj mce ovink soer)

Keberanian Kartini dalam berjuang sangat menonjol, di dalam suratnya yang lain kepada  sahabatnya yang benama Stella, Kartini mengatakan  :

“Stella, yang tidak berani tidak akan menang, adalah semboyan saya.  Maju terus, menerjang  tanpa gentar dan harus berani menangani semuanya, Orang2 yang berani menguasai tiga perempat dunia”.

Ketajaman pena Kartini terus menerus  melesat bak anak panah  menembus tembok penindasan yang mengurungnya menyuarakan Revolusi “Tata Nilai” untuk menciptakan peradaban manusia yang beradab di tanah tumpah darahnya. Semangat yang lahir dari hati yang bersih, berani,rasa tanggung jawab terhadap kedaulatan bangsanya laksana ombak yang menghantam gunung karang raksasa. Kartini yakin bahwa perjuangan pasti ada yang meneruskannya.Sekeras2nya batu karang akan jebol juga dihantam ombak yang terus menerus. Tujuan Kartini hanya satu dalam pemikirannya yaitu meng ubah ketidak adilan penjajahan menjadi  kemerdekaan yang adil bagi bangsa nya, dan kaum perempuannya.Namun betapa sedih nya Kartini , orang2 bumiputera  tidak membutuhkan perubahan apapun, seolah sudah sangat menikmati apa yang dia jalani selama penjajahan ini berlangsung. Antara keputus asaan dan kepasrahan orang Jawa, yang menganggap nasibnya sebagai takdir dari Tuhan yang Maha Esa.

Menurut Kartini, bangsa Jawa yang seperti itu, sedang mengalami A. Memmi sebagai amnesia sosial, lupa jatidiri, dan tidur berkepanjangan. (Arbaningsih, 2005: 33). Hal ini disebabkan karena penindasan yang berlangsung lama oleh pemerintah kolonial. Bagaimana caramya, membangkitkan bangsa yang tertidur seperti itu ? Bangsa yang merasa wajar di dalam penderitaan penjajahan, bangsa yang pasrah dengan takdirnya menjadi bangsa yang dijajah? Atau mereka tidak punya harapan, sehingga tidak ber keinginan untuk meng ubah nasibnya. Kartini tidak mempunyai apa2 , kecuali pikiran yang selama ini telah diasahnya dengan baik. Kemudian terpikirlah di benak Kartini bahwa untuk merdeka mereka harus mengetahui perlunya kemerdekaan. Untuk mengetahui perlunya kemerdekaan rakyat itu perlu dicerdaskan. Maka untuk merdeka di perlukan pendidikan  yang komplet yaitu pendidikan untuk mencerdaskan pemikiran dan pendidikan untuk mencerdaskan budi pekerti. Pendidikan yang hanya dipenuhi dengan pendidikan pemikiran saja, tanpa diikuti dengan pendidikan mencerdaskan budi pekerti akan berbahaya. Hasil pendidikan seperti itu akan menciptakan pemimpin seperti monster.  Yaitu pemimpin yang akan menindas rakyatnya sendiri, pemimpin yang tidak melindungi negaranya dan hasil buminya, Pemimpin yang tega menjarah kekayaan negeri dan merampas hak2 rakyat untuk kepentingannya pribadi. Alangkah mengerikan ……………………

Pendidikan yang komplit tidak hanya diperoleh dari sekolahan saja, tetapi juga  di peroleh dari lingkungan, terutama keluarga, bahkan sejak hari pertama manusia lahir, dan terlelap dalam dekapan ibu yang melahirkannya. Maka betapa mulianya peran seorang ibu. Karena dari perut seorang ibu akan melahirkan peradaban manusia .

Pendidikan karakter bangsa juga diperoleh dari kelakuan  para pemimpin. Pemimpin yang baik merupakan guru yang baik bagi rakyatnya, layaknya guru yang mengajar muridnya di kelas. Bila guru kencing berdiri  maka muridnya kencing berlari.

Ooh andaikan Kartini bangkit kembali, mungkin dia akan menangisi apa yang saat ini terjadi.

Enampuluh empat tahun lebih kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia , sejak th45  , namun betulkah kita sudah merdeka atau sia sia kah cita cita  Kartini ?  Kemerdekaan adalah jembatan emas  kedaulatan rakyat , Kemerdekaan adalah janur kuningnya  kesejahteraan rakyat.

Pada jaman nya Kartini Jawa yang dahulu pernah berdaulat, kemudian mengalami  amnesia sosial, lupa jatidiri, dan tidur berkepanjangan karena penjajahan kolonialime Belanda (Arbaningsih, 2005: 33). Apakah sekarang Indonesia merdeka juga pernah berdaulat, juga sedang  mengalami  amnesia sosial? , lupa jati diri ? dan tidur nyenyak, tidak bisa bangun lagi ?

Oh, Kartini, saya ingat  kata2 Bung Karno  yang mengatakan bahwa :

Hai Bangsa Indonesia, pada suatu saat nanti , kalian akan mengalami penjajahan  berwajah baru  yang disebut  neokolonialisme, neo imperialism, dan neoliberalisme. Kalian akan sangat sulit menandai mana musuh musuh mu karena mereka mempunyai kulit dan rambut yang sama dengan kalian“

Jaman Kartini telah berputar kembali , Indonesia yang pernah berdaulat sekarang kembali terjajah oleh neoliberalisme. Paham yang kejam, karena yang kuat memakan yang lemah, pemerintah tidak berdaya melindungi rakyatnya sendiri yang membutuhkan perlindungan, darah yang menetes di jaman revolusi 45 tiada lagi berarti. Pemimpin negeri menjadi abdi kepentingan2 asing yang menjarah kekayaan pertiwi.

Kartini, harus bagaimana kami ?

Kalau engkau  bertanya berapa banyak perempuan yang bisa mendapatkan pendidikan setara dengan laki laki? , saya akan menjawab  cepat : jawabnya mudah, tidak diragukan lagi , perempuan telah berdaya dalam pendidikan dibandingkan dg laki laki di negeri ini.

Tetapi lihatlah di punggung  ibu pertiwi, masih banyak diantara saudara kami yang belum merdeka, mereka tertindas oleh bangsanya sendiri, mereka tidak berdaya melindungi dirinya sendiri dari bencana kemanusiaan. Lihatlah Kartini, sebagian dari mereka berbaris rapi membanting tulang  di negeri tetangga mencari nafkah untuk anak dan suaminya. Ohh….  Kartini jangan salahkan mereka, karena  di negeri sendiri tidak ada tempat bagi mereka untuk mencari sesuap nasi.

Andaikan Ibu Kartini hadir disini, akan saya ceritakan bahwa saya termasuk perempuan yang beruntung karena perjuangan nya. Saya adalah perempuan pertama yang sempat  menjadi menteri kesehatan di Negeri yang tercinta ini . Sebelumnya, saya adalah dr ahli jantung, peneliti dan dosen FKUI , yang tiba2mendpt kabar diangkat menjadi menteri kesehatan RI. Hal yang tidak pernah saya bayangkan, apalagi saya cita cita kan. Namun apa yang saya dapatkan dari masyarakat ? Mereka tidak percaya karena saya “perempuan” (bukankah pekjaan menkes itu berat, apa mungkin di jabat oleh perempuan?, kedua karena saya seorang klinikus ,dan ketiga saya berasal dari suatu universitas Gajah mada.Dalam badai ketidak percayaan dari masyarakat, saya harus menunjukkan bahwa perempuan bukan suatu halangan untuk melakukan pekerjaan yang selama ini d tangani oleh kaum laki laki. Cemoohan dan suara miring yang tidak mengenakkan harus saya telan, dan hal ini bukan merupakan beban yang bermakna bagi saya. Segera terlihat didepan mata saya betapa rakyat kecil dalam keadaan sakit, begitu banyak yang tidak berdaya, saya harus memberdayakan nya, bukankah saya  diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukannya. Selain harus bertahan dari badai cobaan, saya harus segera memikirkan jaminan kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu.

Kalau Kartini  mengatakan bahwa untuk Merdeka butuh pendidikan ,saya mengatakan untuk merdeka butuh kesehatan dan pendidikan. Karena  hanya dengan kesehatan yang baik pendidikan bisa dilakukan dengan optimal, dan tidak bisa dibayangkan bagaimana bangsa yang sakit ingin merdeka, kalau dia sendiri terbelenggu oleh sakitnya.

Tiga bulan sebelum menjadi menkes ,  Ketika itu saya sedang  sibuk di kantor pusat penelitian RSJHK,  sedang merampungkan riset multisenter tentang obat tradisional jawa (seledri dan kumis kucing) dalam mengobati tekanan darah tinggi. Tiba2 pintu saya diketuk sekaligus dibuka oleh seorang ibu yang tidak saya kenal, langsung masuk dalam ruangan saya. Wajahnya pucat layu tanpa make up, berkeringat pekat memancarkan kecemasan yang luar biasa, ditangannya membawa gulungan robekan tabloid yang sudah sangat lusuh . Dengan terbata bata, dia berkata meskipun belum sempat saya bertanya kepadanya: “ Ibu Siti Fadilah, saya membaca di Koran ini  yang saya temukan di dekat sampah, lihat lah bu disini ada tulisan: ”Siti Fadilah, dokter Jantung yang memikirkan rakyat kecil”. Saya  rakyat kecil bu dokter, yang sangat membutuhkan pertolongan ibu, maka saya mencari ibu sampai disini”. Terkesiap darah saya mendengar ucapannya, seperti halilintar disiang hari yang panas menyadarkan saya bahwa rakyat kecil tidak hanya membutuhkan pemikiran tetapi tindakan nyata.Siapakah yang harus melindungi mereka yang tidak berdaya ini?. Beberapa detik saya terpana memandanginya setengah tidak percaya, saya paksakan mulut saya untuk berbicara kepadanya : “Ada kesulitan apa ibu, sehingga membutuhkan pertolongan saya ?” Ibu itu menjawab dengan penuh linangan air mata : “ Ibu siti Fadilah dua hari yang lalu  saya melahirkan di puskesmas di sana di daerah kebayoran lama, bayi saya perempuan bu. Saya tidak bisa membayar ongkos persalinan, sehingga sampai saat ini bayi itu tidak boleh saya bawa pulang, bu…… dua hari lagi akan diambil orang,bila belum terbayar juga ”. Saya langsung bertanya: berapa ongkos persalinan yang harus ibu  bayar ? Dia menjawab : “Limaratus ribu rupiyah bu”

Antara kaget dan tidak percaya, benarkah ini atau hanya menipu  ?  Bukankah Jakarta penuh dengan penipu dengan beribu macam cara. Tetapi dorongan nurani keibuan yang tidak mau kehilangan bayinya, mengetuk hati saya yang paling dalam. Akhirnya satu staf saya mendampingi ibu membawa uang untuk mengambil bayinya.. Berbinar wajah si ibu yang tadinya layu itu, mereka menuju ke puskesmas. Setelah beberapa saat ibu itu datang kembali, membawa bayi perempuan yang masih merah, ibu itu kembali untuk mengucapkan terimakasih ,dan minta ijin agar anaknya boleh menggunakan nama saya. Ibu itu bernama bu Ijah, suaminya  buruh tidak tetap, dia sendiri buruh cuci pakaian.Tiga minggu kemudian , di RS Islam Cempaka putih, ketika itu saya sedang bersiap2 akan membuka praktek sore, tiba tiba datanglah ibu muda  berjilbab yang tidak saya kenal, datang tergopoh gopoh, tanpa saya tahu asalnya dari mana . Dengan sangat yakin dia mengatakan ingin meminjam uang kepada saya tiga ratus lima puluh ribu saja untuk mengambil bayi yang kemarin dilahirkan dipuskesmas  di daerah  Kemayoran, semakin lama tidak diambil akan semakin mahal katanya. Sejenak saya tersentak ingat dengan si ibu  Ijah, ahh apa benar?. Saya memberinya uang dan saya katakan , ambil segera putera mu, ibu itu kembali menunjukkan bayi lelaki yang dilahirkannya ,dia datang dengan suaminya seorang kuli bangunan  yang sedang bekerja di gedung Yarsi yang sedang dibangun di seberang RS ini. Sambil tersenyum bahagia ibu Nasipah mengatakan Insya Allah akan  mengembalikan uang yang dipinjam itu bila suaminya mendapat uang (sangat optimis ?).

Kartini , sekali lagi , apakah benar saudara saudara kita ini sudah merdeka?  Mereka terbelenggu ke tidak berdayaan, kebodohan dan kemiskinan. Siapa yang akan mempertahankan peradaban yang engkau cita cita kan? Gambaran ini  baru sebagian kecil dari yang sebenarnya terjadi , masih banyak sekali ibu ibu harus kehilangan anaknya karena  kemiskinannya. Tadi malam seorang ibu yang melahirkan dengan operasi Caesar di RS Tangerang ( Rumah Sakit milik  pemerintah) , bayinya disandera RS ,karena tidak bisa membayar tiga juta rupiah. Sang suami tidak mampu membayar karena dia hanya seorang kuli bangunan. Masih bercerita tentang  seorang ibu, saya ingat, 5 th yang lalu,  ibu Enoh penderita jantung koroner yang harus segera di operasi, memilih  mengurbankan nyawanya karena uang yang dimilikinya lebih baik untuk membayar  SPP anaknya yang diterima di universitas Gajah Mada.

Dengan background seperti ini maka lahirlah Askeskin dan kemudian menjadi Jamkesmas,dengan harapan melindungi masyarakat miskin dari bencana kemanusiaan dibidang kesehatan. Kebijakan ini bukan kebijakan yang emosional semata mata tetapi sebenarnya sesuai dengan jelas di UUD45. Mereka mempunyai hak untuk dilindungi dan dilayani pemerintah. Dengan berusaha untuk transparan dan akuntabel serta benar benar dirasakan rakyat ,  pada tahun 2008 program ini berlangsung dengan baik. Kebijakan ini tidak bisa berdiri sendiri, kecuali diikuti dengan kebijakan 2 yang pro rakyat bersama sama, antara lain memastikan bahwa RS pemerintah tidak boleh diprivatisasi sehingga status RS pemerintah menjadi RS untuk melayani rakyat (BLU), harga obat yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak harus diatur oleh pemerintah.  Menurut saya pelayanan kesehatan tidak lah bijak bila diserahkan kepada pasar bebas.

Kita semua melihat dan merasakan ketidak adilan menggurita bangsa ini dalam kurun waktu yang lama. Makna kemerdekaan bangsa ini kabur, tata nilai yang di perjuangkan sirna.  Harapan agar bangsa ini mempunyai jati diri menjadi sia sia. Kedaulatan  dalam berpolitik sebagai Negara yang bebas dan aktif terpaksa dikalahkan oleh kepentingan2  tertentu dan saat tertentu. Kemandirian mengembangkan perekonomian  rakyat  jauh dari kenyataan. Negara kita yang  merupakan pasar potensial nomor empat di dunia membuat  kepentingan asing berlomba untuk menguasainya.

Kegotong royongan telah berubah menjadi individualistis .Keadilan dalam pendidikan sebagai salah satu upaya mencerdaskan bangsa diserahkan kepada pasar bebas dengan otonomi nya.  Ciri- neoliberalisasi dalam pendidikan  menjadi kebanggaan , yaitumeritokrasi ( Sejumlah kecil murid2 yang pandai medapat medali olimpiade keilmuan  internasional, tetapi puluhan juta anak bangsa menangis tidak mendapatkan haknya  meskipun minimal, dalam dunia pendidikan).

Sistem Neoliberalisasi dengan kejam menggilas tuntas peradaban bangsa yang mempunyai cita cita luhur ini .Kebijakan2 dibidang kesehatan yang saya buat untuk mengembalikan hak2 konstitusional rakyat kecil, diartikan sebagai kebijakan yang melawan arus sistem neoliberalisasi yang berlangsung di negeri ini. Namun saya tidak gentar ,bukan hanya didalam negeri saya berjuang melawan ketidak adilan terhadap kemanusiaan. Di dunia internasional pun perlawanan terhadap penindasan kami teruskan. Penindasan yang berlindung di  WHO  suatu organisasi global, yang seharusnya melindungi bangsa2 di dunia dari bencana kesehatan.  Namun ternyata WHO  memberlakukan mekanisme yang  tidak adil  bahkan  sangat kolonialistik  terhadap  Negara    ketiga selama 60 tahun. Akibatnya  gap antara Negara lemah dan Negara maju semakin besar, Negara miskin terancam wabah, dan Negara kaya yang menuai keuntungan karena perdagangan obat2annya. Saya tidak bisa diam, dan perjuangan itu di mulai dan berachir dengan kemenangan mengganti mekanisme lama yang kolonialistik  menjadi mekanisme  yang  yang adil transparant dan setara sesuai dengan Panca sila pada akhir 2007. Kemenangan yang gemilang dibungkam, tidak  di beritakan di media didalam negeri.   Cerita kemenangan itu saya tulis menjadi buku. Setelah  buku dI launching, media pun tetap tidak memberitakannya. Tiga minggu kemudian , seorang Journalist dari Sidney herald Tribune mem blow Up bahwa isi buku itu, sebagai perlawanan terhadap  hegemony Negara Adidaya, sehingga  menghebohkan dunia. Akhirnya dunia mendengar seruan saya dan perubahan pun terlaksana meski belum sempurna.

Saya merasa bahagia karena jalan sudah  saya buka, pasti ada yang meneruskan nya.  Kewajiban saya hanyalah berjuang untuk keadilan dan kemanusiaan, soal berhasil atau tidak ,adalah urusan Tuhan.

Sekarang saya bisa merasakan kegelisahan Kartini, yang ingin memperbaiki nasib bangsanya.

Dia menggunakan pena emasnya, melakukan revolusi kebudayaan, meng ubah mind set bumiputera yang tadinya pasrah menyerah dalam keadaan terjajah menjadi mind set yang memberontak untuk mendapatkan kemerdekaannya. Saya ingin spirit Kartini itu hadir kembali saat ini. Wahai bangsa Indonesia, bangun  dari tidurmu yang berkepanjangan, mari bersama sama kita melakukan Revolusi  budaya, agar bangsa ini benar benar merdeka .

Ingat para perempuan!  “Kartini” bukan hanya perempuan sukses yang menempati jabatan penting , Kartini bukan hanya perempuan pengusaha sukses yang kaya raya, Kartini bukan hanya perempuan ilmuwan dengan title segudang. Tetapi  Kartini adalah perempuan yang mempunyai kemampuan dan  kemauan   merubah nasib bangsanya dari ke terjajahan menjadi merdeka.

Marilah kita menjadi Kartini masa kini . Mari kita  kembalikan kemerdekaan bangsa ini pada rel yang sesuai dengan cita cita founder father kita ketika merdeka.

Pada kesempatan yang baik ini, tidak lah salah bila saya ingatkan kembali cita cita kita bersama untuk bernegara, yang  ter inspirasi dari  pemikiran Kartini masa lalu, adalah : melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa dan Ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi, dan keadilan

Demikianlah sambutan saya pada acara ini ,mudah2an berguna untuk bangsa kita tercinta yang sedang sakit . Meskipun demikian kita harus tetap survive dan rebut kembali kedaulatan rakyat, sehingga kita berdaulat dalam berpolitik, berdaulat  dalam memutar roda ekonomi rakyat , berdaulat dalam ber sosial dan ber budaya Indonesia. Yang mmenjadi harapan  adalah  bukan kedaulatan pasar,  bukan kedaulatan markus,  bukan kedaulatan mafia-hukum, bukan kedaulatan renten

Siti Fadilah Supari (Dewan Pertimbangan Presiden, Menteri Kesehatan RI 2004-2009, Ketua Dewan Pembina Dewan Kesehatan Rakyat).

Dibacakan dalam Orasi Kebudayaan  Lingkar Budaya Indonesia Taman Ismail Marzuki, 28 April 2010

Ketua Umum Kadin periode 2009-2013 saat ini adalah Bapak Moh. S Hidayat yang telah diangkat sebagai Menteri Perindustrian dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid-II oleh Bapak Presiden SBY.

Oleh karena itu dalam waktu dekat KADIN Indonesia akan menyelenggarakan Munas Luar Biasa untuk memilih Ketua Umum yang baru.

Siapakah calon Ketua Umum KADIN baru yang Anda unggulkan?

Siapakah Ketua Umum Kadin 2010-2015 pilihan Anda?Market Research

Berdasarkan info dari TV, ternyata Pemda bertepul sebelah tangan.
Ruilslag tanah makam Mbah Priok hanya melibatkan Pemda DKI dengan Pelindo-II, tanpa sepengetahuan pihak Ahli Waris Mbah Priok.

Pengacara Ahli Waris berkali-kali ingin ketemu dgn Walikota sampai dengan 3-hari sebelum kejadian tetapi tidak pernah digubris. Mereka masih memiliki surat2 kepemilikan tanah asli dari zaman Hindia Belanda, bukan surat2 yg diterbitkan oleh BPN.

Jadi secara hukum sengketa ini belum berakhir, tetapi Pemda DKI
bertindak sewenang-wenang, mengerahkan Satpol PP yg digaji dari cucuran keringat Rakyat untuk menindas Rakyat. DPRD DKI belum pernah diajak bicara.

Rencana Pemda DKI/Satpol PP adalah menggusur seluruh kompleks Makam Mbah Priok dengan dalih sudah diruilslah dgn tempat makam lain, dan hanya akan mensisakan tanah sekitar 100 m2 untuk monumen bekas makam Mbah Priok yang nantinya akan terkurung oleh kompleks Terminal Peti Kemas Pelindo-II. Masyarakat hanya diberi jalan masuk yg dijaga Pelindo.
Tempat ritual agama hanya diganti dgn sebuah monumen, apakah ini sama?

Apa hasilnya? 130 orang terluka, 3 orang SatPol PP meninggal dunia secara sia-sia.

Pemda DKI menyesal, Pelindo-II menyesal, semuanya menyesalkan atas kejadian ini. Mereka akhirnya bersedia berunding yang menghasilkan kesepakatan bersama, agar Makam Mbah Priok tidak digusur, namun diperbaiki, dibangun pula tempat bagi masyarakat untuk berziarak dan berzikir, dibuatkan terowongan untuk masuk ke kompleks makam agar tidak mengganggu lalulintas peti kemas.

Mengapa tidak sejak dahulu hal ini dilaksanakan secara baik-baik,bukan dengan menunggu sampai korban-korban berjatuhan?

Kita perlu belajar dari pengalaman masa laul, penguaasa tidak boleh arogan dan agar mendengarkan suara masyarakat luas sebelum bertindak!

Prabu Jayabaya yang hidup sekitar 1700  tahun y.l. yang arif dan bijaksana mempunyai visi yang jauh ke depan. Melalui syair-syair yang universal dan abadi sifatnya, beliau memberikan tanda-tanda zaman untuk munculnya Sang Satria Piningit dengan senjata pamungkas Trisula Weda (benar, lurus, jujur) yang akan menjadikan tanah Jawa (sekarang: Nusantara Indonesia) menjadi Negeri yang Aman Sentosa, Adil Makmur, Gemah Ripah Loh Jinawi bagi segenap Bangsa Indonesia. Berikut ini adalah potongan syair-syair itu:

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.
One day there will be a cart without a horse.

Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah Jawa berkalung besi.
The island of Java will wear a necklace of iron.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu berlayar di ruang angkasa.
There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.
Sungai kehilangan lubuk.
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhang.
Pasar kehilangan suara.
There will be markets without crowds.

Iku tandha yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itulah pertanda jaman Jayabaya telah mendekat.
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi semakin lama semakin mengerut.
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Sejengkal tanah dikenai pajak.
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda suka makan sambal.
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakeyan lanang.
Orang perempuan berpakaian lelaki.
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu pertanda orang akan mengalami jaman berbolak-balik.
These are signs that the people is facing the era of turning upside down.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak janji tidak ditepati.
Many promises unkept.

Akeh wong wani nglanggar sumpahe dhewe.
Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.
Many break their oath.

Manungsa padha seneng nyalah.
Orang-orang saling lempar kesalahan.
People will tend to blame on each other.

Ora ngendahake hukum Allah.
Tak peduli akan hukum Allah.
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Yang jahat dijunjung-junjung.
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Yang suci (justru) dibenci.
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit.
Banyak orang hanya mementingkan uang.
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Lupa jati kemanusiaan.
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Lupa hikmah kebaikan.
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara.
Abandoning their families.

Akeh bapa lali anak.
Banyak ayah lupa anak.
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibu.
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
Menantang ayah.
And battle against their fathers.

Sedulur padha cidra.
Saudara dan saudara saling khianat.
Siblings will collide violently.

Kulawarga padha curiga.
Keluarga saling curiga.
Family members will be suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Kawan menjadi lawan.
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak orang lupa asal-usul.
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukuman Raja tidak adil
The ruler’s judgments will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pembesar jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak ulah-tabiat ganjil
Many will behave strangely.

Wong apik-apik padha kapencil.
Orang yang baik justru tersisih.
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.
Banyak orang kerja halal justru malu.
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Lebih mengutamakan menipu.
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Malas menunaikan kerja.
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Inginnya hidup mewah.
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
Si benar termangu-mangu.
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
Si salah gembira ria.
The wrong doers will be very happy.

Sudah cocokkah tanda-tanda zaman itu dengan sikon masa kini…?

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Untuk menjadi seorang artis atau selebriti yang populer dan disenangi masyarakat merupakan sebuah prestasi yang tidak gampang untuk diraih. Bandingkan dengan mudahnya ribuan atau jutaan orang yang dapat meraih sukses pendidikan S1 dalam waktu singkat, sedangkan untuk menjadi artis atau selebriti yang populer memerlukan perjuangan yang berat dan waktu yang lama serta hanya segelintir yang berhasil sukses.

Mengapa sekarang banyak sekali para artis dan selebrities berbondong-bondong tertarik untuk mendaftarkan dirinya sebagai Calon Kepala Daerah atau Waklinya (Gubernur dan Bupati)? Apakah mereka ini tergiur oleh kehormatan dan pujian rakyat wilayahnya bilamana mereka terpilih? Ataukah karena berdasarkan pengalaman sukses beberata artis dan selebrities sebelumnya seperti Dede Yusuf dan Rano Karno? Ataukah juga melihat penghasilan “take-home-pay” para Gubernur dan Bupati yang cukup besar per bulan, walaupun biaya kampanye untuk dapat sukses terpilih bisa mencapai sekitar Rp 100 Milyar untuk Gubernur dan sekitar RP 10 Milyar untuk Bupati?

Minggu lalu di TV-One Bapak Mendagri Gamawan Fauzi membenarkan perkiraan biaya kampanye dan Tim Sukses tersebut diatas, sekaligus juga menyatakan bahwa gaji resmi Gubernur sekitar Rp 8,7 juta sedangkan Bupati Rp 6,5 juta diluar tunjangan lain-lain dan fasilitas rumah, mobil, dll.

Bapak Mendagri juga menjelaskan bahwa untuk menjadi calon Kepala daerah, diperlukan 16 persyaratan sesuai Undang-undang, beberapa diantaranya yang penting adalah: memiliki dukungan masyarakat yang cukup, pendidikan yang sesuai, memiliki pengalaman dalam memimpin atau menjabat di pemerintahan, dan memiliki akhlak yang baik dan terpuji.

Ketika para artis dan selebritis ditanya apakah mereka menyediakan dana kampanye milyardan rupiah seperti diatas, mereka secara kompak menjawab bahwa mereka tidak menyediakan dana sepeserpun, sebab biaya kampanye dan Tim Sukses mereka semuanya ditanggung oleh para sponsor yaitu kelompok masyarakat atau para Parpol pendukung mereka. Kalau ini dianggap sebagai Investasi, lalu bagaimanakah para sponsor ini mendapat kembali uang mereka setelah calon mereka terpilih? Ini sebuah permasalah yang pelik yang diakui baik oleh Mendagri maupun bapak Riyaas Rasyid, pencipta Undang-undang Otonomi Daerah. Salah satunya adalah dengan mengurangi secara drastis biaya kampanye untuk menjadi Kepala Daerah, sebab saat ini untuk menjadi calon Bupati saja, mereka diharuskan membiayai 1000 TPS beserta biaya penyelenggaraan pilkada-nya serta ongkos kampanye, spanduk, media TV dan Radio, dll.

Mengapa para artis dan selebrities ini begitu konfiden untuk berhasil dalam Pilkada di wilayah masing-masing? Beberapa jawaban yang disampiakan oleh mereka ketika di-interview oleh TV-One adalah sbb:

Helmi Yahya – calon Bupati Ogan Komering Hilir: Ia kalah tipis di Pilkada Gubernur Lampung, dan kali ini Ia sangat pasti akan memenangkan persaingan Bupati OKH, sebab Ia dilahirkan dan pernah tinggal diwilayah itu serta mendapat dukungan kuat masyarakatnya. Saat ini Ia juga menjabat sebagai Wakil Sekjen PAN.

Emilia Contessa – calon Bupati Banyuwangi: Ia dilahirkan dan tinggal di wilayah itu, serta sudah 5-tahun aktif di organisasi politik dan sudah meninggalkan profesi penyanyi-nya. Ia yakin bahwa dengan tangan yang bersih, jujur, tulus dan ikhlas Ia pasti sukses dalam memimpin wilayah itu.

Yulia Perez (JuPe atau nama aslinya Julia Rahmawati) - calon Wakil Bupati Pacitan: Walaupun Ia populer sebagai artis dengan predikat panas, namun Ia dengan kesungguhan hati akan merubah penampilannya yang sopan selama 5-tahun kedepan sebagai layaknya seorang Kepala Daerah. Ia sangat yakin akan dapat menampilkan dirinya sebagai seorang Pemimpin yang cerdas, memajukan budaya, agama dan perekonomian wilayah itu. Terkait dengan masa lalunya, Ia dengan terus-terang dan diplomatis mengibaratkan bahwa lebih baik menjadi seorang mantan wanita “nakal” dari pada menjadi seorang mantan wanita baik-baik…

Kita doakan semoga ketiga calon Kepala daerah yang berasal dari artis/selebrities itu sukses dalam Pilkada yang akan segera digelar beberapa bulan mendatang, sebab mereka terlihat tulus dan iklas mengorbankan  segala kenikmatan dan kegemerlapan artis/selebrities mereka untuk membangun wilayah yang akan mereka pimpin.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat.