Feeds:
Tulisan
Komentar

Sebuah Diskusi di Metro TV yang dipandu oleh Saut Poltak bersama Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli digelar pada hari Rabu malam, 13 Mei 2009. Rizal Ramli bercerita tentang keberhasilan beliau selama menjabat sebagai Menteri Keuangan dan kemudian Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia selama 16 bulan, diantaranya adalah sbb:

  1. Bulog yang dahulunya dikenal memiliki posisi-posisi basah dan kering, oleh Rizal Ramli dilakukan pertukaran pejabat2 dari lokasi basah dan kering, agar mereka tahu bahwa Pimpinan Bulog yang baru tidak lagi meminta upeti. Selain itu Rizal Ramli juga memerintahkan agar dana-dana Non-Budgeter di BULOG dijadikan dana Budgeter, sehinggan pengeluaran biaya menjadi terkendali. Hasilnya, Bulog berhasil untuk menghemat biaya sampai 40%. Saat ia meninggalkan BULOG, kas BULOG mencapai beberapa puluh Trilyun Rupiah.
  2. Perusahaan BUMN PLN yang menyatakan bahwa mereka memiliki modal minus Rp 9 Trilyun dan Asset sebesar Rp 50 Trilyun, berhasil diubah kondisi keuangannya menjadi memiliki Modal sebesar Rp 100 Trilyun dan Asset sebesar Rp 300 Trilyun hasil Revaluasi Asset2 PLN yang belum pernah di-revaluasi sebelumnya. Modal sebesar Rp 100 Trilyun itu adalah hasil suntikan modal dari Pemerintah, yang memperoleh dana dari Pajak Revaluasi Asset PLN tersebut.
  3. Rizal Ramli juga berhasil memperoleh dana dari pajak Cross-Ownership Anak-anak Perusahaan PT TELKOM dan PT INDOSAT sejumlah sekitar Rp 3 Trilyun.

Agar supaya Pemerintah Indonesia dimasa depan tidak lagi menambah Hutang, maka beliau menyarankan agar Anggaran Investasi Tahunan (CAPEX) untuk pembangunan gedung, kendaraan, dll sebesar Rp 400 Trilyun diubah menjadi Anggaran Operasional untuk menyewa Gedung2, kendaraan, dll, sehingga dapat menghemat biaya-biaya perawatan kalau memiliki Aset2 berupa Gedung, Kendaraan, dll yang bisa mencapai ratusan Trilyun Rupiah.

Penghematan Anggaran Investasi yang bisa mencapai sekitar Rp 300 Trilyun per Tahun dapat dipergunakan untuk membangun Infrastruktur, seperti jalan-jalan raya di Sumtera dan Kalimantan, memberi kerja kepada ratusan ribu pekerja Indonesia untuk jangka panjang, serta memajukan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

Rizal Ramli juga menyarankan agar Produksi BBM menjadi Minyak Tanah dan Bensin agar dilakukan sendiri secara mandiri oleh Pertamina dan Produsen Nasional lainnya, sehingga dapat dihemat Devisa yang besar, mengurangi import dari Singapore yang banyak biaya-biaya silumannya.

Rizal juga menyarakna agar produksi dan pemrosesan berbagai Komoditas agar dilakukan sendiri di Dalam Negeri, agar mengurangi kebutuhan Devisa Nasional. memberikan lapangan kerja kepada Rakyat Indonesia, dan menekan biaya-biaya perantara atau broker-broker yang banyak berkelliaran.

Semua itu bila dilakukan secara ter-rencana dengan baik dan konsisten untuk meningkatkan kemampuan Produksi dan Pemrosesan di Dalam Negeri, akan dapat menghindarkan kebutuhan akan Devisa LN yang biasanya diperoleh dari Utang Luar Negeri yang tiap tahun makin bertambah.

Hasilnya adalah membebaskan Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai dari kesulitan ekonomi yang telah berlangsung selama 64 tahun, menghilangkang penderitaan Rakyat yang berkepanjangan, dan menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Maukah dan mampukah para Capres/Cawapres yang memenangkan Pilpres 9 Juli 2009 yang akan datang melaksanakan program kerja yang diusulkan ini?

Silahkan ditanggapi, didebat atau dilaksanakan.

Presiden SBY akhirnya menetapkan Gubernur Bank Indonesia Boediono selaku Cawapres pasangan beliau dalam Pilpres 9 Juli 2009 yang akan datang. Boediono adalah seorang Ekonom yang dikenal bertangan dingin yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian dalam kabinet-kabinet Repulik Indonesia. Beliau adalah sosok Ekonom yang cerdas, sederhana, jujur dan bersikap tenang tanpa pernah menujukkan sikap emosional dalam berbagai situasi maupun pertemuan-pertemuan penting.

Keluarga Besar Boediono yang tinggal di rumah yang sederhana di Jalan Dr. Wahidin 6 Blitar, Jawa Timur merasa terkejut atas pencalonan beliau selaku Cawapres pendampin Capres SBY dalam Pilpres 9 Juli 2009. Namun mereka semuanya mendukung pak Boediono untuk mendampingi Capres SBY.

Sementara itu para Partai-partai Politik yang telah menyatakan bergabung dengan Partai Demokrat menyatakan berbagai tanggapan yang positif maupun negatif terhadap pencalonan Boediono selaku Cawapres pendampin Capres SBY.

Presiden PKS Tifatul Sembiring menyatakan bahwa PKS belum pernah dikomunikasikan tentang rencana SBY untuk mencalonkan Boediono selamu Cawapres pendamping beliau. PKS sebelumnya telah menyampaikan usul nama-nama Cawapres dari PKS, bila tidak diterima maka dapat dipilih Cawapres yang berasal dari ummat atau partai pendukung lainnya. Ini agar ada koalisi antara Nasionalis dan Islam dalam pasangan Capres/Cawapres 2009.

Sementara itu Amien Rais yang mewakili PAN menyatakan ketidak-setujuannya atas pencalonan Cawapres Boediono, sebab menurutnya Kebijakan Perekonomian Boediono terlalu condong kepada lembaga-lembaga keuangan IMF dan Bank Dunia.

Sementara itu PKB menyatakan bahwa pihaknya dapat menerima Boediano selak Cawapres pendamping SBY, karan hal ini sep[enuhnya menjadi kewenangan beliau untuk menetapkan Cawapres. PKB juga tetap akan berkoalisi dengan Partai Demokrat, dan tidak tergantung dari pilihan Cawapres.

Sementara itu PDIP yang diwakili oleh Sekjen Pramono Anung menyatakan bahwa pihaknya tidak berhak untuk mencampuri urusan intern Partai lain. Ia juga menyatakan bahwa Boediono bukan representasi PDIP. Namun semua ini menurutnya adalah bagian dari bunga-bunga Demokrasi Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa keputusan PDIP berkoalisi dengan Partai Demokrat belum final dan bisa saja ada perobahan dalam beberapa hari mendatang.

Perpecahan mulai membayangi Partai PDIP, sebab sebagian elitnya ingin merapat ke Partai Demokrat. Upaya ini dipelopori oleh Ketua Dewan Pembina PDIP Taufiq Kiemas, padahal Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri bersikukuh ingin menjadi Capres.

Menurut tokoh senior PDIP yang menjadi penghubung upaya koalisi dengan Partai Demokrat, koalisi ini adalah demi kepentingan bangsa yang lebih besar, yaitu tetap terjaminnya negara kebangsaan yang mengedepankan kemajemukan. Ini adalah untuk menghindari PD tersandera oleh partai-partai kanan. Diharapkan PDIP dapat mengawal Kabinet dimasa depan, kata Sekjen PD Marzuki Ali.

Ketua Dewan Pembina Partai Demorat SBY juga mengakui tadi malam tentang adanya Komunikasi dua arah antara PD dan PDIP untuk kepentingan bangsa. Kepastian ada-tidaknya koalisi akan ditentukan dalam satu-dua hari mendatang. Sedangkan Tim Kecil PDIP yang masih mencapreskan Megawati saat ini menghadapi dilema, yaitumenjujung martabat partai atau membiarkan negara terkungkung oleh partai-partai kanan yang telah lebih dahulu menyatakan bergabung dengan Demokrat.

Alternatif lainnya adalah memasangkan Puan Maharani, putri Megawati-Taufiq Kiemas sebagai Cawapres SBY. Alternatif-alternatif ini akan berlanjut sampai batas akhir penadftaran Pasangan Capres/Cawapres pada tanggal 15 Mei 2009.

Silahkan ditanggapi.

KPU akhirnya menetapkan hasil Pemilu Legislatif pada hari Sabtu malam tanggal 9 Mei 2009 sesuai dengan jadwal, dimana Partai Demokreat meskipun masih berumur sangat muda, namun mampu merebut kemenangan mutlak, yaitu mencapai 21,70% atau 148 kursi DPR. Rincian hasil Pemilu Legislatif adalah sbb:

  1. Partai Demokrat ….. 21,70% atau 148 kursi DPR
  2. Partai GOLKAR …… 15,03% atau 108 kursi
  3. PDIP ….. 14,60% atau 93 kursi
  4. PKS ……. 8,20% atau 59 kursi
  5. PAN ………….. 6,25% atau 42 kursi
  6. PPP …………….. 5,53% atau 39 kursi
  7. PKB …………… 5,14% atau 26 kursi
  8. GERINDRA ………. 4,64% atau 30 kursi
  9. HANURA ………. 3,92% atau 15 kursi

Penggunaan Hak Pilih hanya mencapai 60,78% sedangak yang sekitar 40% adalah karean tidak terdaftar, Golput dan suara yang tidak syah.

Peta kekuatan Politik menunjukkan Partai Demokrat menguasai Sumatera bagian Barat, Sumut dan Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali-Lombok, Partai Golkar di Sumatera Selatan, Riauw, Kaltim, Sulawesi dan Indonesia Timur, PDI menguasai Jawa Tengah dan Kalimantan Barat, PAN menguasai Sumatera tengah.

Sementara itu Mahkamah Konstitusi membuka 3×24-jam permohonan Gugatan Hasil Pemilu mulai tanggal 10 Mei 2009 pukul 00.00 WIB. Umumnya gugatan itu menyangkut penggelembungan suara di tingkat PPK dan Kabupaten.

Sampai dengan hari ini, Jumat 8 Mei 2009 PDIP belum juga menetapkan pasangan Capres/Cawapres untuk Pilpres tanggal 8 Juli 2009, sebab janji Sekjen PDIP Pramono Anung untuk mengumumkannya pada hari Kmais 7 Mei 2009 tenyata tidak dapat dipenuhi. Kemungkinan besar sebabnya adalah saling tarik-ulur antara PDIP dan Gerindra yang masing-masing ingin agar calon mereka yang menjadi Capres. Menurut berita, pengumuman Capres/Cawapres PDIP akan diberikan setelah KPU menetapkan hasil akhir perhitungan suara tanggal 9 Mei 2009, bila hal ini tidak mundur lagi.

Sementara itu kemarin siang Mensesneg Hatta Rajasa mengunjungi rumah Megawati Sukarnoputri di Jl. Teuku Umur, yang khabarnya adalah membicarakan soal kepemilikan rumah beliau yang pernah menjabat sebagai Presiden RI. Namun Pramono Anung menyatakan pada wartawan bahwa selain urusan kepemilkan rumah, juga sempat dibicarakan hal-hal lain yang lebih substansial. tetapi Ia tidak merinci apa hal besar itu.

Dikhabarkan pula bahwa siang ini Pasangan Capres/Cawapres JK-Wiranto akan berkunjung kerumah Megawati Sukarnoputri sebagai kunjingan pertama dari pasangan ini semenjak mereka mendklarasikan berpasangan untuk Pilpres Juli 2009. Menurut pihak Golkar, kunjungan ini dimaksud untuk memperkuat Koalisi Besar yang pernah mereka umumkan bersama agar makin kokoh.

Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik (PKSPSP) FISIP Universitas Indonesia mengadalak dua buah survei yaitu survei pada 100 orang Tokoh Masyarakat dari 20 Propinsi di Indonesia dan Survei pada 2.000 Responden di lokasi-lokasi yang sama dengan survei yang pertama. Proyek Survey ini berjudul “Persepsi dan Preferensi Masyarakat terhadap Tokoh Politik Menjelang Pilpres 2009″ dan dilaksanakan pada tanggal 27 April 2009 sampai dengan 2 Mei 2009.

Survei pertama mewawancarai 100 orang tokoh masyarakat yang dipilih secara acak yang tersebar di 20 Propinsi, dengan metode wawancara terstruktur menggunakan kuestioner. Pengambilan sampling melalui multi-stage random sampling dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% dan tingkat kesalahan sebesar kurang dari 4%.

Hasil Survei petama adalah sbb:

  1. Prabowo …. 32%
  2. SBY ….. 30%
  3. Megawati ….. 16%
  4. Jusuf Kalla ….. 14%
  5. Lainnya …. 8%

Pada Survey kedua yang melibatkan 2.000 responden, dengan tingkat kepercayaan sbesar 95%, dan dengan kriteria survey “Siapakah Tokoh yang paling berpeluang untuk menjadi pesaing kuat SBY”, hasilnya adalah sbb:

  1. Prabowo ….. 31,15%
  2. Megawati …… 25,2%
  3. Jusuf Kalla …… 21,05%
  4. Wiranto ….. 12,7%
  5. Yang tidak tahu ….. 9,95%

Menurut Pengamat Politik UI Cecep Hidayat, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan untuk memilih wajah baru dalam Pilpres mendatang. Namun kemungkinan untuk bisa mengalahkan SBY adalah kecil, kecuali bila Probowo dapat berpasangan dengan tokoh muda yang mendapat dukungan PDIP dan partai-partai lainnya. Situasi ini mirip dengan Pilpres Amerika Serikat tahun 2008 yang lalu, dimana Tokoh Muda Barack Obama mengusung slogan “Change We Believe In!”.

Silahkan ditanggapi.

Capres/Cawapres 2009 JK-Wiranto

Capres/Cawapres 2009 JK-Wiranto

Pada hari Kamis malam 30 April 2009 pasangan Capres/Cawapres Jusuf Kalla-Wiranto memberikan pengumuman resmi kerjasama antar GOLKAR dan HANURA untuk memasangkan ketua-ketua umum mereka dalam Pilpres Juli 2008. Mereka adalah pasangan pertama yang sepakat melakukan koalisi. Diperkirakan dalam waktu dekan dua pasangan Capres/Cawapres lainnya akan segera menyusul untuk diumumkan dari kubu Partai Demokrat dan Kubu PDIP dan Partai Gerindra.

Kedua pemimpin itu dalam sambutan mereka menyatakan bahwa mereka adalah pemimpin Indonesia yang telah banyak makan asam garam dan dapat cepat mengambil keputusan yang penting bagi negeri ini. Mereka meniti karir dari bawah, JK memulai dari manajemen perusahaan swasta, menjadi birokrat dimulai dari menteri, kemudian menko dan saat ini selaku wakil presiden. Jadi selayaknya kalau Ia sekarang mencalonkan diri sebagai Capres RI 2009. Wiranto meniti karir militer jauga dari bawah, hingga menjadi Panglima ABRI, dan kemudia menjadi Menko Polkam.

Dalam wawancara pada acara silaturahmi dengan DPD se-Sulsel pada hari Sabtu 2 Mei 2009, JK menceritakan bahwa dirinya terpaksa harus berpisah dengan pasangan Presiden/Wapres SBY saat ini karena Golkar merasa terusik harga dirinya setelah tiga kali mencalonkan JK selaku pasangan Cawapres untuk Pilpres Juli 2009 ini. Ini juga untuk mempertahankan keutuhan Partai Golkar.

The Legislative Election is only a few days to come, yet many people still do not know the reason why they should choose one or another party or candidate, because they can only see a few parties’ banners, slogans or promises along the Indonesian road sides. During the past four-and-a-half year of the current government of President SBY and Vice President Jusuf Kalla, people were experiencing risning oil, food, and basic needs prices, growing unemployment, and growing number of poor people. The current Global Financial Crises only added up to the economic problems of Indonesia, causing reduction in export, business trade, rising US Dollar exchange rate and the fall of domestic shares prices.

People are wandering if the results of the current Legilstive Election and Presidential Election could improve the Indonesian economic condition and improve the people’s welfare in general, because only a few candidates could express logically and clearly if they are elected, they will execute economic improvement programs for the country during their five-year rule. Most candidates could only make good promises without any futher explainations.

However, we were lucky to watch a discussion program on “Economic Challenges” a few days ago at Metro-TV, presenting Dr. Pande Raja Silalahi from CSIS and Dr. Hendri Saparini from ECONID. The two speakers were basically expressing the positioning of “established” presidential candidates: SBY, JK and Megawati; and the “alternate” presidential candidates: Wiranto, Probowo and Rizal Ramli.

The economic policy of the “established” presidential candidates in principle is to start with existing economic conditions, and gradually improving without much significant changes to the existing system. They also welcome the foreign investors and foreign role in the development of Indonesia.

On the other hand the economic policy of the “alternate” presidential candidates in principle is to reject foreign domination in the development of Indonesia, and try to use as much as possible local expertise and resources in the development of Indonesia, and to establish self-sufficiency.

The detailed variation of each presidential candidate economic policy is presented as follows:

  1. The incumbent President SBY: continue the current economic policy of the current Government, because it was considered to be fairly successful.
  2. The incumbent Vice President Jusuf Kalla: (a). Self-sufficiency in rice production; (b). Increase investment; (c). Develop infrastructures.
  3. The former President Megawati: (a). Create cheap supply of basic needs of the people; (b). Create more employments; (c). Improve the welfare of the people.
  4. The alternate Presidential candidate Wiranto: (a). Change economic direction so as to be free from foreign influence; (b). Indonesian natural resources is mainly for the benefit of the Indonesian people.
  5. The alternate Presidential candidate Prabowo: (a). Create a just and right economic policy to ensure the improvement in economic condition of poor people; (b). Peasants and fishermen to become the economic backbone of Indonesia; (c). Developing Indonesia as one of Asian economic “tigers”; (d). Reject the sale of State-owned Enterprises.
  6. The alternate Presidential candidate Rizal Ramli: (a). Nationalization of foreign-owned Indonesian companies; (b). Reject foreign influence in the development of Indonesia; (c). Reject IMF influence.

It is to be noted that the alternate Presidential candidate Prabowo Subianto is the most communicative candidate, judging from his almost daily appearance in Indonesian television ads, and his most outspoken views of the future Indonesian economic policy. He is the son of the Indonesian economic “Guru” the late Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo.

By knowing the summary of each Presidential candidates, we can now decide whose policy is our best choice to realize the long awaited ideals of the people of Indonesia: A just and prosperous country for all people of Indonesia!

Who is your choice? Please have your comments and suggestions.
——–

Rod Blagojevich dan Istri
Rod Blagojevich dan Istri

Gubernur Negara Bagian Illinois, USA, Rod R. Blagojevich kemarin ditangkap Polisi Federal USA karena terindikasi melakukan transaksi tawar-menawar jabatan Senator yang ditinggalkan oleh Barrack Obama, setelah Barrack terpilih sebagai President-Elect USA yang akan dilantik tanggal 20 Januari 2009. Rod Blagojevich dibebaskan sementara dengan membayar jaminan US$4.500,-

Penawaran sesuatu jabatan di Pemerintahan maupun perusahaan adalah suatu hal yang wajar bila tidak disertai dengan permintaan untuk membayar sejumlah uang tertentu sebagai imbalan atas penunjukan jabatan tersebut. Pihak Polisi AS telah lama menerima informasi tentang tingkah-laku Gobernur Illinois yang tidak terpuji ini, karena terekam melalukan pembicaraan via telpon dengan berbagai calon pengganti Senator Barrack Obama yang mewakili Negara Bagian Illinois.

Dengan kewenangannya menawarkan jabatan Senator itu, maka Rod Blagojevich mencoba mencari keuntungan materiil yang tidak sedikit, yaitu minta imbalan jutaan Dollar AS. Akibat ulahnya itu, Partai Demokrat AS tercoreng namanya, sebab Gubernur Illinois itu juga berasal dari Partai Demokrat. Presiden-Elect Barrack Obama telah meminta Gubernur Illinois untuk mundur dari jabatan Gubernur Illinois, namun si Gubernur tetap menolak dan mau menghadapi tuntutan hukum atas perbuatannya.

Menurut beberapa ahli hukum AS, kecil kemungkinannya Gubernur Illinois akan memenangkan perkara, sebab ada banyak bukti2 kuat berbagai pembaicaraannya yang sudah terekam untuk minta imbalan atas usul penunjukan seseorang yang akan mengganti Barrack Obama, sebab di AS juga sudah ada UU ITE dan penyadapan terhadap pembicaraan orang-orang yang dicurigai oleh polisi.

Namun ada sebagian ahli hukum AS yang mengatakan bahwa, walaupun Rod Blagojevich terekam membicarakan jual-beli jabatan Senator, Ia belum terbukti menerima uang, sebab hal itu baru pada tahap tawar-menawar. Jadi ada kemungkinan Ia bisa lolos dari jerat hukum. Mari kita ikuti berita kelanjutan perkara ini.

Kasus Makelar Jabatan di Senat AS ini menjadi menarik untuk dipelajari, mengingat Indonesia sedang menuju ke Pemilu dan Pilpres 2009, dimana pasti akan terjadi pula tawar-menawar jabatan di Pemerintahan dan BUMN bagi para pendukung Partai-partai tertentu dengan atau tanpa imbalan apa-apa, misalnya orang itu dipilih karena kemampuan professionalisme.

Bila dalam penunjukan jabatan strategis itu ada imbalan uang atau janji untuk memberikan kemudahan atau fasilitas tertentu yang yang menjadi kewenangan jabatan Strategis itu, apakah ini merupakan pelanggaran hukum Indonesia atau tidak?

Silahkan ditanggapi.

Presiden Venezuela Hugo Rafael Chavez pada hari Senin, 18 Agustus 2008 telah melakukan Nasionalisasi Perusahaan Semen Mexico di Venezuela, yaitu CEMEX secara paksa setelah berbulan-bulan gagal melakukan pengambilan alihan perusahaan itu melalui jalan negosiasi. Pemerintah menempatkan tentara di komplex pabrik semen tersebut untuk menjaga keamanan pabrik dan keberlangsungan operasional.

Presiden Hugo Chavez

Presiden Hugo Chavez

Langkah Presiden Hugo Chavez ini menarik sekali untuk dipelajari, sebab ada kemiripan antara Venezuela dan Indonesia, yaitu sama-sama negara berkembang dan penghasil besar minyak bumi serta sumber-sumber daya alam lainnya. Langkah Presiden Hugo Chavez me-nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Venezuela dilakukannya setelah melihat kemiskinan dinegerinya berlanjut, walaupun banyak perusahaan asing beroperasi di Venezuela.

Sejarah turun-naiknya sebagai Presiden:

Hugo Rafael Chávez Frías yang lahir pada tanggal 28 Juli 1954 adalah Presiden Venezuela saat ini. Sebagai pimpinan Revolusi Bolivar, Chávez mempromotori visi demokrasi sosialis,[1] integrasi Amerika Latin, dan anti-imperialisme. Ia juga tajam mengkritik globalisasi neoliberal dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.[2]

Ia adalah presiden sejak tahun 1998. Dia adalah putra seorang guru dan lulusan Akademi Militer. Chavez meraih gelar insinyur tahun 1975 dan ia penggemar berat olahraga bisbol.

Setelah terpilih sebagai presiden tahun 1998, ia berkali-kali mengalami guncangan pemerintahan. Ia diancam dibunuh (2000). Tetapi, ia mendapatkan mandat enam tahun masa jabatan pada tahun tersebut guna melakukan reformasi politik.

Pada 14 November 2001, Presiden Hugo Chavez mengumumkan serangkaian tindakan yang bertujuan merangsang pertumbuhan ekonomi termasuk di antaranya mengundangkan Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah yang menetapkan bagaimana pemerintah bisa mengambil alih lahan-lahan tidur, tanah milik swasta, serta mengundangkan Undang-undang Hidrokarbon yang menjanjikan royalti fleksibel bagi perusahaan-perusahaan yang mengiperasikan tambang minyak milik pemerintah.

Kebijakan ekonomi yang dinilai kontroversial terutama menyangkut Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah, di antaranya memberi kekuasaan pada pemerintah untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan real estate yang luas dan tanah-tanah pertanian yang dianggap kurang produktif mengundang protes jutaan orang di ibukota, Caracas (11 Desember 2001). Selain, mata uang Bolivar jatuh terpuruk 25% terhadap dolar AS setelah pemerintah menghapuskan kontrol terhadap nilai tukar uang yang sudah dipertahankan lima tahun.

Bulan April 2002, sekitar 150.000 orang berunjuk rasa, yang dipelopori oleh Carlos Ortega dan Pedro Carmona, yang bertujuan untuk mendukung pemogokan dan protes minyak. Sementara pada waktu yang hampir bersamaan, ribuan pendukung Chavez berada di sekitar istana, menunjukkan kesetiaan mereka pada presiden yang terpilih dengan demokratis tersebut.

Secara sepihak, pihak oposisi yang melancarkan demo pemogokan tersebut tiba-tiba merubah rute yang sudah ditentukan, berputar ke arah istana sehingga kekhawatiran akan terjadinya bentrokan memacu protes dari walikota Caracas pada Carlos Ortega sebagai orang yang dianggap bertanggung-jawab pada demonstran yang dibawanya.

Bentrokan pun terjadi diantara dua massa besar tersebut, yang dicoba lerai oleh pihak keamanan. Namun di tengah bentrokan, suara-suara tembakan terdengar. Jelas sekali di kemudian hari, dari hasil dokumentasi dan pengumpulan informasi, diketahui ada penembak gelap yang bersembunyi.

Pada saat tersebut, nyaris dari 25% penduduk Venezuela memiliki pistol. Tidak terkecuali dengan mereka yang berada dalam demonstrasi besar tersebut. Tembakan-tembakan pun diarahkan, baik oleh pendukung Chavez maupun pihak oposisi yang tidak tahu apa-apa, ke arah tembakan dari penembak gelap. Namun dalam tayangan yang ditampilkan oleh televisi swasta yang sebagian besar dimiliki oleh pihak yang beroposisi pada Chavez, dikesankan seakan penembakan dilakukan oleh pendukung Chavez dengan brutal pada pihak demonstran oposisi.

Kejadian itu menelan korban 10 orang tewas dan 110 lainnya cedera. Presiden Chavez bukannya melarang aksi-aksi kekerasan tersebut diliput televisi, bahkan aksi-aksi tersebut dibesar-besarkan oleh pihak media yang anti dengan Chavez sebagai kesalahan dan tanggung-jawab Chavez. Meskipun pada kenyataannya mereka menyembunyikan fakta bahwa baik pendukung Chavez maupun oposisi, pada saat tersebut sama-sama menjadi sasaran penembak gelap. Pada saat itu, para perwira militer pembangkang mengharapkan Chavez mengundurkan diri.

Presiden Hugo Chavez mengundurkan diri di bawah tekanan pemimpin-pemimpin militer Venezuela pada pagi-pagi di hari Jumat waktu setempat tanggal 12 April 2002. Kudeta dramatis yang dilakukan militer terhadap presiden mengembangkan situasi dilematis. Beberapa jam setelah Chavez mundur, Pedro Carmona diangkat sebagai presiden sementara (interim). Tetapi, Jaksa Agung Venezuela (Isaias Rodriguez) menyatakan bahwa penunjukan presiden interim Pedro Carmona adalah inskontitusional dan menandaskan bahwa Presiden Venezuela tetap Hugo Chavez.

Menurut Jaksa Agung, pengunduran diri presiden baru resmi setelah diterima Kongres. Chavez mengundurkan diri di bawah tekanan pemimpin-pemimpin militer. “Tuan Presiden, dulu saya loyal habis-habisan. Akan tetapi, kematian banyak orang yang terjadi, tak bisa ditoleransi,” kata Jenderal Efraim Vazguez Velasco (Panglima Angkatan Bersenjata) dalam pidatonya di televisi nasional yang dikutip pers Indonesia.

Di tengah mengalirnya kritik internasional terhadap tindakan kudeta, militer menunjuk seorang ekonom bernama Pedro Carmona yang merupakan salah satu pimpinan kamar dagang. Saat pelantikan sebagai presiden interim, Carmona mengumumkan segera melakukan pemilihan presiden dalam setahun. Kongres juga dibubarkan karena sebagai pendukung Chavez. Dalam salah satu dekrit yang diumumkan pemerintahan sementara juga diungkapkan dibentuknya sebuah Dewan Konsultatif yang terdiri 35 anggota. Mereka mengemban tugas sebagai badan penasehat presiden republik.

Dekrit juga menetapkan, presiden interim akan mengkoordinasikan kebijakan pemerintahan transisi dan keputusan lain yang diperlukan guna menjamin kebijakan, dengan otoritas pemerintah pusat maupun daerah. Dekrit tersebut mengundang banyak kritikan. Presiden Meksiko Vicente Fox secara tegas menyatakan tidak mengakui pemerintahan baru Venezuela sampai dilaksanakan pemilu baru. Demikian juga dengan pemimpin-pemimpin Argentina dan Paraguay menyatakan, pemerintahan baru Venezuela tidak sah.

Sehari setelah Hugo Chavez digulingkan melalui kudeta militer dan digantikan Pedro Carmona atas inisiatif sebagian perwira militer, Chavez kembali dikukuhkan menjadi Presiden Venezuela (14 April 2002). Pedro Carmona yang hanya menduduki sebagai presiden interim selama sehari dipaksa mengumumkan pengunduran dirinya setelah Jaksa Agung menyatakan bahwa kudeta tidak sah.

Berhasilnya Chavez kembali ke tampuk pemerintahan antara lain disebabkan militer terpecah. Sebagian jenderal memang mendukung Carmona, tetapi sebagian besar prajurit dan perwira menengah loyal terhadap Chavez. Selain itu, di kalangan kelompok masyarakat miskin pun Chavez sangat populer sehingga ketika ia digulingkan ribuan orang melakukan unjuk rasa agar Chavez dikukuhkan kembali menjadi presiden. Dalam aksi yang diwarnai penjarahan tersebut, belasan orang tewas.

Hugo Chavez sempat ditahan di Pulau La Orchila oleh para pejabat senior militer dan terbang kembali ke Caracas dengan menggunakan helikopter serta dielu-elukan ribuan pendukungnya. Dengan mengepalkan tangan ke atas, Chavez memasuki Istana Kepresidenan Miraflores yang berhasil direbut kembali oleh pendukungnya. Sementara, Jaksa Agung menegaskan bahwa para menteri di bawah pemerintahan interim ditahan dan sejumlah petinggi militer juga diadili dengan tuduhan pembangkangan militer, termasuk pimpinan interim mereka yang seorang ekonom bernama Pedro Carmona.

Referendum 8 Agustus 2004 sebagai upaya menggulingkan Presiden Hugo Chaves oleh oposisi kembali dilakukan, tetapi masih dimenangkan oleh Hugo Chavez dengan 58 persen suara. Kemenangan tersebut membuat dirinya berhasil mengatasi salah satu tantangan terbesar dalam masa pemerintahannya dan menjadikannya sebagai sebuah mandat yang lebih besar untuk melanjutkan “revolusi bagi kaum miskin-“nya.

Pada pemilu legislatif pada Desember 2005, partai pimpinan Chavez berhasil menyapu bersih seluruh kursi parlemen setelah pihak oposisi memboikot pemilu tersebut.

Keberhasilannya:

Dengan Demokrasi Sosialisnya, Presiden Hugo Chavez telah berhasil mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin, memberikan tanah-tanah bagi kaum miskin melalui kebijakan land reform, membangun ribuan klinik bagi rakyat miskin, serta memberikan pendidikan gratis kepada rakyat sampai ke tingkat perguruan tinggi.

Kebijakan Presiden Hugo Chavez untuk menasionalisasi perusahaan asing menjadi BUMN terlihat bertentangan 180 derajat dengan Kebijakan Pemerintah Indonesia untuk menjual BUMN-BUMN kepada pihak asing.

Pemimpin masa depan Indonesia perlu meninjau ulang kebijakan untuk menjual aset-aset nasional kepada pihak asing, sebab dikhawatirkan bahwa langkah ini malah akan makin membuat rakyat Indonesia makin miskin, makin menderita, makin tingginya jurang antara si kaya dan si miskin, meningkatnya Indeks GINI, kekayaan alam Indonesia makin terkuras habis tanpa memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan Amanat UUD 1945 dan cita-cita Kemerdekaan Bagi segenap Bangsa Indonesia.

Perlukah kita meninjau kembali Demokrasi Liberal, Globalisasi Liberal dan Kapitalisme Liberal yang saat ini dianut Pemerintah Indonesia? Apakah alternatif lain dapat mensejahterakan rakyat Indonesia?

Silahkan ditanggapi.

Tulisan Sebelumnya »