Prospek makin meningkatnya harga BBM Dunia maupun Dalam Negeri membuat para Pemimpin Indonesia dan Ekonom Indonesia berpikir keras mencari solusi yang tepat untuk menghadapinya atau menanggulanginya. Berbagai Seminar dan Diskusi telah dilakukan, namun tetap saja, belum ada solusi yang tepat dan meyakinkan dalam jangka panjang. Solusi-solusi yang ada, seperti menaikkan harga BBM DN dan pemberian BLT bagi rakyat miskin hanyalah solusi jangka pendek. Bagaimana kalau harga BBM LN terus merangkak naik, seperti pada hari ini sudah mencapai US$140 per barrel, naik dari US$135/barrel beberapa minggu terakhir?

Dalam konperensi G-8 yang telah berlangsung beberapa hari yang lalu, beberapa negara anggota menuduh bahwa kenaikan harga BBM LN yang sangat tinggi dalam beberapa tahun ini adalah disebabkan oleh tindakan spekulatif para Investor besar Dunia, dengan membuat bergabagi issyu dan analisa, serta menakut-nakuti masyarakat Dunia bahwa dalam beberapa tahun mendatang, kebutuhan BBM Dunia akan meningkat tajam, jauh melebihi dari supply BBM.

Namun Amerika Serikat dan Inggris menolak adanya skenario global tersebut diatas, dan mereka membuat analisis bahwa kenaikan BBM LN itu memang benar-benar disebabkan meningkatnya kebutuahn dunia akan BBM berasal dari fossil. Keberatan kedua negara tersebut memang masuk akal, sebab pada umumnya para Investor Global itu berasal dari kedua negara besar tersebut.

Lalu bagaimanakah Pola Hidup Sederahana itu dapat mengatasi Krisis Multidimensi Indonesia, termasuk krisis BBM?

Bila Pola Hidup Sederhana dapat menjadi acuan para Pimpinan Pemerintahan Pusat, Pemda, Pimpinan dan Anggota Legislatif, Yudikatif, Pimpinan Publik, dan Pimpinan Swasta, pola ini akan ditiru dan dilaksanakan oleh segenap Rakyat Indonesia. Tidak lagi menjadi kebanggaan bilamana Pemimpin memiliki hata-benda yang berlimpah dan mewah, rumah mewah, mobil mewah, mobil besar diatas 2000-cc-an. Masyarakat akan lebih menghargai bilamana para Pemimpin menunjukkan kesederhanaan, hidup sederhana seadanya. Sudah ada contoh yang nyata, yaitu Presiden Iran Ahmadinejad, yang bisa menjadi acuan kita apa artinya Pola Hidup sederhana. Berjalan tanpa pengawalan berlebih, tinggal di-rumah sendiri yang hanya muat satu mobil, bila terlambat datang ke Mesjid, menerima duduk dibelakang, dsb.

Cara lain hidup sederhana adalah naik sepeda ke Kantor, ke Sekolah, Kuliah, pergi Belanja, dan sebagainya. Tahap awal bisa dimulai naik sepeda seminggu sekali, misalnya hari Jumat, sebab esoknya hari Sabtu adalah hari libur, jadi bisa istirahat bila badan terasa penat, sebab belum terbiasa. Hal inilah yang dilakukan oleh Sekretaris saya yang tergabung dalam Kelompok B2W (Bike-to-Work), tiap hari Jumat naik sepeda ke Kantor dibilangan Merdeka Barat, dari tempat tinggalnya di Depok. Sungguh mengejutkan, ke kantor dari Depok dengan Sepeda hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, lebih cepat dari pada naik Kendaraan umum yang memakan waktu 2,5 jam! Ini adalah hikmahnya naik sepeda, selain membuat badan sehat, juga menghemat waktu, dan menghemat biaya.

Karena keberhasilan Kelompok B2W ini, maka besok pada hari Jumat tanggal 20 Juni 2008 pagi diminta untuk bersilaturahmi dengan Bapak Presiden RI SBY pada pukul 07.00 di Istana Negara. Mudah-mudahan ada keputusan penting Presiden SBY agar memasyarakatkan gerakan B2W, dan Pola Hidup Sederhana seperti tersebut diatas.

Dengan Pola Hidup Sederhana ini, maka akan tejadi penghematan besar penggunaan BBM, dan bila mencapai angka 300.000 barrel/hari, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor BBM. Kebutuhan BBM dapat keseluruhannya di produksi di DN, sehingga berapapun naiknya harga BBM LN tidak akan mempengaruhi harga BBM di Indonesia.

Masyarakat juga akan makin banyak dapat menyimpan dana untuk dipergunakan bagi hal-hal yang bermanfaat (misalnya membantu saudara atau keluarga miskin) dan produktif, sehingga masyarakat Indonesia juga akan makin sejahtera.

Para Pimpinan, Pejabat, Eksekutif, Figur Publik, Pimpinan dan Anggota Legislatif, Yudikatif tidak akan lagi pamer kemewahan, karena ini akan dicibir oleh masyarakat. Mereka tidak akan lagi berlomba-lomba mencari tambahan penghasilan, sebab budaya yang baru adalah budaya Pola Hidup Sederhana.

Tidak ada lagi urgensi untuk berlomba-lomba mencari kekayaan sebesar-besarnya demi prestise dan kepopuleran diri, baik secara halal maupun dengan KKN, suap, dan berbagai tindakan manipulasi yang melanggar hukum.  Di Era Budaya Pola Hidup Sederhana, masyarakat hanya akan menghargai dan menghormati seseorang dari hasil-hasil karya seseorang, sumbangan dan kontribusinya terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara, baik itu yang berupa materi maupun non-materi. Penghargaan itu tidak dilihat dari kaya atau miskinnya seseorang, namun dari sikap kesederhanaannya dan kejujurannya.

Dengan makin mendekatnya awal Kampanye Capres dan CaWapres pada tanggal 8 Juli 2008, maka kami menganjurkan bahwa kemenangan para Capres dan CaWapres 2009-2014 hanya akan diperoleh bilamana para Kandidat itu bisa menunjukkan sikap dan Pola Hidup Sederhana selama masa kampanye dan setelah terpilih selaku Presiden dan Wakil Presiden periode 2009-2014.

Kami percaya bahwa perubahan ke Budaya Pola Hidup Sederhana inilah sebagai solusi terbaik untuk menanggulangi dan melepaskan Indonesia dari Krisis Multidimensi: Krisis BBM, Pangan dan Krisis Etika dan Moral yang saat ini masih marak di negeri ini.

Silahkan ditanggapi, diberikan saran-saran yang positif, serta dilaksanakan bersama, mulai saat ini.

Komentar
  1. Agus mengatakan:

    salut bro…..postingan yg bagus….saya juga berusaha untuk berpola hidup sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s